Rencana Reuni alumni ‘92 sudah terdengar

Setelah Bertemu di reuni akbar muhi 2009 kemarin, dari omong-omong an akan mengadakan reuni khusus alumni yang lulus tahun ‘1992 akhirnya rekan-rekan pelopor reuni telah mengadakan rapat kecil di rumah ...

Lowongan Project Asistant API

Terms of Reference Project Assistant – API Regional Project Post Title                                       : Project Assistant Nationality                                   : Indonesian National Location/Duty Station           : Yogyakarta , Indonesia Duration ...

UANG RECEH

Sebagai pengguna sepeda motor, hampir dipastikan seminggu sekali aku mengisi BBM. Karena tidak ada aktivitas, biasanya aku melihat pada metering yang mengukur berapa liter BBM yang kita isi dan berapa ...
Prev 1 2 3 4 Next

Money Talks di Rutan – Catatan Keprihatinan

Published on January 11th, 20103 shouts

Dalam hidupku, aku tidak pernah mengenal lika liku kehidupan penjara (rutan), sampai ketika itu aku rutin ke salah satu Rutan di Jawa Tengah karena salah satu family ku ditahan di Rutan itu, bukan karena kriminalitas, tapi karena kecelakaan. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, ketika tiba tiba dengan sangat cepat ada pengendara sepeda motor yang memotong jalan dan tanpa menggunakan helm. Tabrakan pun tidak terhindarkan, adik iparku selamat, meski mobil yang dikendarai rusak total. Sementara pengendara sepeda motor tersebut segera dilarikan ke rumah sakit dan beberapa jam kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Sesuai dengan hukum yang berlaku, saudaraku itu divonis penjara 6 bulan dan harus membayar sekian juta rupiah ke Pengadilan. Alhamduliah, dia sekarang sudah keluar dari Rutan itu.

Ketika masih di rutan, aku melihat saudaraku dan teman-temannya tampak sangat tidak terurus. Tubuh mereka terlihat jauh lebih kurus, dengan mata cekung karena kurang istirahat. Bukan karena mereka tidak diberikan jam istirahat, tapi karena tempat yang mereka huni jauh dari kata “manusiawi”. Lebih dari 20 orang berjejal dalam kamar berukuran 3 x 4 meter. Untuk tidur, mereka harus bergantian, dan harus dalam posisi miring. Beberapa penghuni rutan senior disegani dan sering memaksa pendatang baru, tidak terkecuali saudaraku itu.

Setiap orang yang berkunjung ke rutan itu diberikan kartu dan dibatasi waktu kunjungnya, tidak boleh lebih dari 30 menit. Kalau ingin memperpanjang, harus menyelipkan sebungkus rokok dan beberapa puluh ribu rupiah. Keluarga ingin waktu lebih lama dan para sipir itu tentu saja tidak menolak rokok dan uang perpanjangan waktu. Maka tradisi seperti ini terus berkembang. Rasanya penjara atau rutan selalu terkait dengan uang. Aku jadi ingat buku “Jurnalisme Sastrawi” yang salah satunya menceritakan kehidupan dari rutan ke rutan beserta besarnya uang yang harus di setor kepada setiap pos.

Hari ini, aku seperti orang yang shock  mendengar berita di TV yang terus di ulang ulang tentang “Istana di Dalam penjara”. Kisah indah kasus terpidana korupsi Artalyta Suryani (Ayin), yang bisa menyulap penjara nya menjadi sebuah istana dengan berbagai fasilitas mewahnya, termasuk dokter kecantikan yang memberikan perawatan kepada Ayin. Mungkin benar apa yang di katakan dosenku dulu, bahwa “Money Talks”. Bahwa uang bisa merubah banyak hal. Bahwa banyak orang yang akan menjadi silau dengan uang yang melimpah.

Tidak pernah terfikir kehidupan di penjara akan menjadi istana seperti yang di alamai Ayin. Aku selalu mengira kehidupan penjara, sepenting apapun orang tersebut, tidak akan punya keluasaan yang melampau batas. Pada saat yang sama saudaraku ditahan, Bupati setempat juga ditahan karena dugaan korupsi. Istimewanya dia tinggal satu kamar sendiri. Hanya itu. Aku juga dengar di rutan itu, kalau mau kamar lebih luas dengan lebih sedikit penghuni, harus membayar sekian juta. Saudaraku ditawari juga, tapi dia sepertinya tidak mau buang-buang uang dan rela berdesak-desakan sampai vonis bebas nya.

Peristiwa Ayin ini tentunya membuka mata banyak pihak. Membawa sebuah keprihatinan tentang dunia kelam di Rutan dan semua pihak terkait. Entah sudah berapa banyak Ayin-Ayin yang lain yang tidak terungkap. Kemewahan yang dia nikmati di penjara tentu membawa sakit yang mendalam. Betapa penghuni rutan di bedakan nasibnya, pelayannya, hanya berdasarkan uang. Money Talks. Mudah-mudahan Pemerintah bisa menindak tegas dan tidak sekalipun memberikan pembenaran sikap Ayin dan pihak yang telah memfasilitasinya. Smoga.

“MANDIKAN AKUUUUU BUNDA…..”

Published on January 11th, 2010one shout

Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis. Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang dimilikinya sampai akhirnya …..

Rani, sebut saja begitu namanya. Wanita ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, elanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel”, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
ALIFYA, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar : Alifya. (more…)

PERJALANAN MUDIK KLATEN dan REUNI MUHI

Published on October 16th, 2009no shouts

Untuk menghindari macet, aku sekeluargo mudik setelah sholat Ied ( sekitar jam 10.00 WIB), dan memang bener mulai masuk Cirebon-Brebes-Tegal jalanan lancar2 saja. Dengan mobil butut aku masih kuat juga nyopir sendiri tanpa ada pengganti, Istri dan ke-3 anaku sangat menikmati perjalanan. Di Pemalang kita istirahat sholat dan makan, tidak lama kami jalan lagi supaya cepat nyampai Klaten, karena yang ada dalam perasaan ini cuma pingin cepet ngumpul sama keluarga dan ketemu temen2 dalam reuni di Muhi.
Sekitar Jam 18.30 kami sampai di Boyolali, dan Galih anak pertamaku ngomong aja laper, akhirnya kami berhenti makan Bebek Goreng sekalian sholat Maghrib. Sampai di Klaten sekitar jam 21.00 aku gak langsung ke rumah tapi karena ada rasa kangen aku mampir dulu ke rumah Wildan untuk sekedar ngobrol2. Hari Selasa aku telpon Syamsu yang tinggal di Gunung Kidul untuk janjian ketemu di rumah Riyanto sekalian nengok kondisi Riyanto yang sangat membuat aku sedih. Dia salah satu korban gempa yang membuat dia lumpuh, dan selama ini kondisinya sangat memprihatinkan. Namun demikian saya sangat salut dengan kesabaran dan ketabahannya. Saat ngobrol dia terlihat semangat, dan seolah gak mau kita tinggal untuk pulang. Kita bertiga sangat puas bercerita tentang masa2 SMA dulu.
Hari Kamis kita menghadiri Reuni khusus angkatan 86 di aula Muhi. Taufik, Nining, M. Dayat, Teguh, Rahman, Fudiyanti dll saling berangkulan untuk melepas rasa kangen. Walau kita sudah mulai beranjak tua ( wis 40 tahuna lo cah) tapi semangat yang terpancar diwajah rekan2 seperti masih di SMA. Teman2 saling bertukar cerita dan pengalaman. Jarot jadi Guru, Papuk Pengusaha Swalayan, Taufik pengusaha EO, Condro dali Lurah….wis pokoke gayeng banget. Hari Sabtu aku datang pada Reuni Akbar, memang disini banyak alumni yang gak aku kenal, utnuk itu aku cari temen2 angkatan 86 dan tak lupa aku nyari CATUR yang dari dulu menjaga keamanan kendaraan murid2, dan alhamdulillah ketemu (ora pangling meneh). Setelah ketemu dengan temen angkatan 86, kita putuskan untuk ngobrol dan bernostalgia di ruang kelas IPA-6 ( sing lokasine no pojok paling wetan kae lo cah). Sebelum kita pulang, kita menyempatkan ngobrol secara khusus dengan Pak Mughni dan sekalian berfoto ria (la fotone digowo Elfi).
Hari Senin Aku dan keluarga balik ke Majalengka, kali ini kami memilih jalan lewat Jogja-Purworejo-Kebumen-Gombong-Wangon sampai Majalengka. Tak lupa aku minta pengestu pamit karo konco2 kabeh.

Profile Alumni 8: Dumaery, M. A.

Published on October 11th, 2009no shouts

DUMAERY, M.A.

Pak Dumaery tinggal di kawasan Perumahan IDI, Jalan Kaliurang km.14. Istrinya, Ibu Sri Pilihaningtyas, juga alumni SMA Muhi Klaten. Karenanya, bagi Pak Dumaery, kenangan terindah di Muhi adalah ketika mengenal Ibu Sri dan akhirnya setelah masa pacaran selama 7 tahun (sejak kelas 2 SMA), mereka melangsungkan pernikahan. Pak waktu iti Pak Dumaery sedang menyelesaikan skripsi nya di Jurusan Ekonomy Gadjah Mada.

Ketika masuk SMA Muhi tahun 72, Pak Dumaery merasa minder dengan anak anak SMA dari sekolahan lain. Waktu itu ada 3 kelas untuk siswa baru nya, tahun 73, hanya ada 2 kelas siswa baru. Makanya beliau mengatakan sempat ciut juga, jangan jangan tahun 74 tinggal 1 kelas, lalu tahun 75 tidak ada siswa lagi. Tapi alhamdulillah kekhawatiran itu tidak terjadi. Waktu terakhir berkunjung ke Muhi untuk mengisi acara KIR Pak Dumaery merasa sangat senang ketika mengetahui ada lebih dari 30 kelas di Muhi (kelas 1-3).

Kenangan lain yang masih lekat di benaknya adalah ketika gurunya, alm. Imran memarahi siswa siswa dengan mengatakan “Wis goblok, sekolahe neng SMA Kamandhiko, Ndeso meneh”. Itu adalah ungkapan Pak Imran yang justru memotivasi Pak Dumaery dan kawan kawan seangkatannya. Juga sebagai gambaran bahwa tahun tujuh puluhan SMA Muhi tentunya tidak semegah sekarang, bahkan sebaliknya terkesan, ndeso, kumuh dan untuk praktikum biologi masih menumpang di SPBma.

Pak Dumaery, selain mengajar di Fakultas Ekonomi UGM, beliau juga menjadi Pembina Olympiade Tingkat Nasional, bidang Ekonomi. Ibu Sri menambahkan “Sayang sekali ya jika SMA Muhi tidak memanfaatkan Pak Dumaery sedangkan beliau hampir tiap bulan keliling Indonesia untuk membina di berbagai sekolah”. Pak Dumaery dan istri bercerita bahwa semasa mereka kuliah S1, Pak Dumaery, Pak Muhni (yang sekarang kepala sekolah Muhi), Pak Mukib,  Pak Widodo, dan beberapa kawan lain, selalu datang ke SMA Muhi Klaten menjelang masa ujian akhir bagi siswa kelas 3. Mereka datang dan memberikan semangat kepada adik adik yang mau ujian akhir, bahwa lulusan Muhi bisa ke sekolah sekolah favorit. Lalu masing-masing memberikan gambaran tentang kampus masing masing.

Saat ini Pak Dumaery bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Ekonomi UGM dan Finance Development Advisor di MM UGM. Saat ini beliau juga sedang mengambil S3 di UGM, sembari mengajar dan menjadi Pembina Olympiade Nasional, bidang Ekonomi. Pak Dumaery bisa di kontak melalui Hp di : 08164267755

Profile Alumni 7: MUHAMMAD FAJAR SUMINTO, S. Ag.

Published on October 11th, 2009no shouts

MUHAMMAD FAJAR SUMINTO, S. Ag.

Fajar2 copy

Fajar adalah salah satu contoh alumni Muhi yang memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan. Meski maksud itu tidak bisa diraihnya begitu dia lulus SMA tahun 1996 yang lalu dan harus menundanya sampai tahun 2001 ketika dia diterima sebagai mahasiswa di IAIN (Sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selama kurun waktu 1996 – 2001 Fajar mengumpulkan bekal untuk kuliah dengan bekerja di tempat foto copy dan juga berjualan koran. Untuk menghidupi kesehariannya di Yogya, Fajar berjualan soal – soal ujian masuk IAIN dan ujian masuk universitas lain. Disamping itu Fajar juga sangat bersyukur bahwa selama kuliah di IAIN dia mendapatkan suasana kekeluargaan di KSR PMI IAIN Sunan Kalijaga. Mereka saling bahu membahu dan membantu satu sama lain.

Dorongan orang tua Fajar rupanya begitu kuat sehingga menghantarkan Fajar dan keempat saudaranya bersekolah di SMA Muhi Klaten. Menurut Fajar, dia dan kakaknya bisa saja diterima di SMA Negeri 3 Klaten, namun pilihan mereka jatuh ke SMA Muhi Klaten. Rupanya banyak alumni Muhi yang punya kisah yang sama, semua saudara menimba ilmu di SMA Muhi. Tentunya ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi SMA Muhi. Kepercayaan dan pilihan mereka tentu karena alasan yang kuat bahwa bersekolah di Muhi tidak hanya menimba ilmu umum, tapi juga diseimbangkan dengan ilmu agama.

Ketika di SMA Muhi dulu, Fajar menjadi Seksi Kepribadian di OSIS dan karena postur tubuhnya yang tinggi Fajar ikut ekstra kurikuler PBB. Guru favoritnya di SMA Muhi adalah Pak Aris Munawar. Menurutnya, pola pembelajaran yang diterapkan pak Aris membuat siswa aktif. Hal itu yang menjadikan alasan kenapa Pak Aris menjadi guru favoritnya.

Fajar1 copy

Saat ini Fajar bekerja di lembaga penelitian “Survey Method” dan mengerjakan entry data, look-up (sortir data) dan meng asisteni koordinator lapangan.

Profile Alumni 6: Ir. PUJI WIBAWATY

Published on October 11th, 2009one shout

Ir. Puji Wibawaty

Puji copy

Alumni SMA Muhi tahun 82 ini, setelah menamatkan kuliah di IPB, kemudian bekerja sebagai Pejabat Pembuat Komitment (PPK, dulu dikenal dengan nama Pimpro) di Dinas Pertanian Lampung Tengah. Sebelumnya mbak Puji bekerja di Dinas Pertanian provinsi Lampung. Baginya setiap pekerjaan adalah Ibadah dan sekaligus amanah. Mbak Puji selalu membagi kerjanya dengan staff karena dia yakin bahwa pekerjaan tidak bisa dilakukan sendiri. Hanya saja perlu perencanaan yang cermat,  kontrol yang ketat,  dan disiplin dalam menepati jadwal yang telah dibuat.

Perjalanan karirnya ke Lampung karena mengikuti suami (Drs, Haidir Syah) yang berasal dari lampung. Doanya untuk mendapatkan suami yang sholeh dan dapat membimbing dia dan keluarganya rupanya dikabulkan Yang Kuasa. Sang suami adalah alumni Pondok Pesantren Gontor dan telah menyelesaikan studi di Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mbak Puji dikaruniai empat anak:  (1) Zahra Aulia FItri, 21 tahun, kuliah di UNY  (2) Nabila Hanum, 17 tahun, SMA Al Kautsar Bandar Lampung, (3) Faiz Fahmi Baihaqy, SMA Muhi Klaten dan (4) Muthia Balqis, MTsN 2 Sukarame Bandar Lampung.

My Famz. copy

Kenangan tentang SMA Muhi Klaten ternyata tidak lepas dari benak Mbak Puji. Kenangan saat ditaksir oleh Guru Karate nya dan juga guru bahasa Inggris saat masih menjadi siswa di Muhi masih terkenang sampai sekarang. Selama sekolah di Muhi Klaten Mbak Puji selalu meraih prestasi sebagai JUARA UMUM. Namanya selalu terpampang di papan tulis kelasnya, ditulis di deretan paling atas karena prestasinya. Hingga lulus, dia bisa mempertahankan prestasinya sehingga bisa masuk ITB dengan bebas test. Boleh di bilang nilainya disemua mata pelajaran hampir selalu 10. Jika mendapatkan nilai 9 atau 8, Mbak Puji akan menangis dan sampai dirumah, tanpa ganti baju, langsung menganalisa jawaban jawaban nya dan mencari tahu dimana salahnya. Selain berprestasi di sekolah, teman sekelas Pak Saladin ini juga dikenal aktif di OSIS dan mengikuti ekstra kurikuler karate.

Mbak Puji mengungkapkan betapa dia sangat berterimakasih karena didikan SMA Muhi masih terbawa sampai sekarang, baik dalam dunia pekerjaannya maupun dalam bermasyarakat. Bagi Mbak Puji, kesuksesan tidak hanya selalu diukur dengan materi. Kesuksesan justru akan dilihat dari bagaimana kita membawa diri di masyarakat agar hidup kita berguna untuk orang lain. Mbak Puji juga menambahkan bahwa kunci sukses diantaranya dia tidak pernah meninggalkan tahajud, puasa senin kamis dan dhuha yang sudah dilakukannya sejak SMP. Kepada adik-adik siswa Muhi, Mbak Puji berpesan supaya selalu membentengi diri dengan iman yang ada di dalam diri dan semestinya selalu dipupuk.

Mbak Puji bisa dikontak melalui Hp nya di : 08154071392

Profile Alumni 5: SALADIN, Ph. D.

Published on October 11th, 2009no shouts

SALADIN, Ph. D

DSC_6076 copy

Putra kedua Bapak Thojib ini memilih menjadi mathematikawan setelah menyelesaikan  S1 dan S2 nya di ITB jurusan Matematika Institut Tehnologi Bandung (ITB) dan S3  di Universiteit Twente, Belanda, di jurusan yang sama. Bagi Pak Saladin, salah satu tantangan sebagai mathematikawan yang juga menjadi perhatiannya adalah bagaimana mendekatkan GAP antara mathematikawan dengan pengguna matematika. Banyak industri yang beranggapan bahwa matematika itu murni hanya hitungan, padahal matematika juga sangat dibutuhkan dalam dunia industri. Sayangnya banyak idnustri Indonesia yang terlalu bergantung pada ahli dari luar negeri. Hal ini berimbas matematikawan Indonesia kurang tertantang dan kurang berkembang. Sebenarnya industri akan sangat diuntungkan oleh matematikawan dan sebaliknya matematikawan bisa lebih mengembangkan ilmu. Pentingnya ilmu matematika ini juga dirasakan dalam pengembangan ekonomi dunia.

Beberapa contoh yang diungkapkan oleh Pak saladin ketika menjelaskan hubungan antara matematika dan industri diantaranya adalah Laborat Hydro Dynamik, yang membuat simulasi ombak untuk kapal. Karakteristik Ombak itu berbeda, sehingga perlu uji coba dari kapal kapal yang berbeda. Lab Hydro Dynamik memiliki kolam ombak  dan sekali menggerakkan biaya sangat banyak serta menggunakan system trial and error dan kadang sampai 15 kali baru berhasil. Sedangkan dengan menggunakan model matematika, bisa digerakkan dalam hitungan satu atau dua kali.

Pak Saladin saat ini mengajar di ITB dan baginya sangat menarik mengajar dan membimbing mahasiswa dari tahun ke tahun dan dari berbagai daerah. Menurut beliau, karakterikstik mahasiswa dari tahun ke tahun sangat berbeda.  Selain mengajar di ITB, Pak Saladin juga menjadi pengurus Ikatan Alumni (IA) ITB. Beliau bercerita bahwa IA ITB dibagi dalam beberapa organisasi, diantara IA angaktan, IA daerah dan IA Pusat. Melalui IA, para alumni berusaha membantu dan memberikan yang terbaik bagi ITB.

Ketika ditanya masa SMA nya, Pak Saladin mengungkapkan bahwa beliau termasuk orang yang sangat menikmati masa kini. Kecuali kalau beliau bertemu dengan teman-teman SMA, baru beliau ingat kejadian-kejadian masa lalu. Mungkin kenangan terdalam bagi Pak saladin saat bersekolah di Muhi adalah beliau bisa belajar tentang (Alm.) Thojib, ayahnya, justru di sekolah. Diantaranya beliau belajar tentang integritas yang mesti dijunjung tinggi.

Keempat saudara Pak Saladin juga lulusan Muhi semua. Mereka adalah (1) Pak Manaruddin yang sekarang berprofesi sebagai pelaut (2) Pak Zulkarnain, guru SMAN Jatinom, sedang S2 di UGM (3) Hasan Besari, bekerja di Bogor dan (4) Setiyani Wardaningtyas di UNES.