Archive for October, 2009:
Written on October 16th, 2009 by sutarnono shouts
Untuk menghindari macet, aku sekeluargo mudik setelah sholat Ied ( sekitar jam 10.00 WIB), dan memang bener mulai masuk Cirebon-Brebes-Tegal jalanan lancar2 saja. Dengan mobil butut aku masih kuat juga nyopir sendiri tanpa ada pengganti, Istri dan ke-3 anaku sangat menikmati perjalanan. Di Pemalang kita istirahat sholat dan makan, tidak lama kami jalan lagi supaya cepat nyampai Klaten, karena yang ada dalam perasaan ini cuma pingin cepet ngumpul sama keluarga dan ketemu temen2 dalam reuni di Muhi.
Sekitar Jam 18.30 kami sampai di Boyolali, dan Galih anak pertamaku ngomong aja laper, akhirnya kami berhenti makan Bebek Goreng sekalian sholat Maghrib. Sampai di Klaten sekitar jam 21.00 aku gak langsung ke rumah tapi karena ada rasa kangen aku mampir dulu ke rumah Wildan untuk sekedar ngobrol2. Hari Selasa aku telpon Syamsu yang tinggal di Gunung Kidul untuk janjian ketemu di rumah Riyanto sekalian nengok kondisi Riyanto yang sangat membuat aku sedih. Dia salah satu korban gempa yang membuat dia lumpuh, dan selama ini kondisinya sangat memprihatinkan. Namun demikian saya sangat salut dengan kesabaran dan ketabahannya. Saat ngobrol dia terlihat semangat, dan seolah gak mau kita tinggal untuk pulang. Kita bertiga sangat puas bercerita tentang masa2 SMA dulu.
Hari Kamis kita menghadiri Reuni khusus angkatan 86 di aula Muhi. Taufik, Nining, M. Dayat, Teguh, Rahman, Fudiyanti dll saling berangkulan untuk melepas rasa kangen. Walau kita sudah mulai beranjak tua ( wis 40 tahuna lo cah) tapi semangat yang terpancar diwajah rekan2 seperti masih di SMA. Teman2 saling bertukar cerita dan pengalaman. Jarot jadi Guru, Papuk Pengusaha Swalayan, Taufik pengusaha EO, Condro dali Lurah….wis pokoke gayeng banget. Hari Sabtu aku datang pada Reuni Akbar, memang disini banyak alumni yang gak aku kenal, utnuk itu aku cari temen2 angkatan 86 dan tak lupa aku nyari CATUR yang dari dulu menjaga keamanan kendaraan murid2, dan alhamdulillah ketemu (ora pangling meneh). Setelah ketemu dengan temen angkatan 86, kita putuskan untuk ngobrol dan bernostalgia di ruang kelas IPA-6 ( sing lokasine no pojok paling wetan kae lo cah). Sebelum kita pulang, kita menyempatkan ngobrol secara khusus dengan Pak Mughni dan sekalian berfoto ria (la fotone digowo Elfi).
Hari Senin Aku dan keluarga balik ke Majalengka, kali ini kami memilih jalan lewat Jogja-Purworejo-Kebumen-Gombong-Wangon sampai Majalengka. Tak lupa aku minta pengestu pamit karo konco2 kabeh.
Written on October 11th, 2009 by elis z anisno shouts
DUMAERY, M.A.
Pak Dumaery tinggal di kawasan Perumahan IDI, Jalan Kaliurang km.14. Istrinya, Ibu Sri Pilihaningtyas, juga alumni SMA Muhi Klaten. Karenanya, bagi Pak Dumaery, kenangan terindah di Muhi adalah ketika mengenal Ibu Sri dan akhirnya setelah masa pacaran selama 7 tahun (sejak kelas 2 SMA), mereka melangsungkan pernikahan. Pak waktu iti Pak Dumaery sedang menyelesaikan skripsi nya di Jurusan Ekonomy Gadjah Mada.
Ketika masuk SMA Muhi tahun 72, Pak Dumaery merasa minder dengan anak anak SMA dari sekolahan lain. Waktu itu ada 3 kelas untuk siswa baru nya, tahun 73, hanya ada 2 kelas siswa baru. Makanya beliau mengatakan sempat ciut juga, jangan jangan tahun 74 tinggal 1 kelas, lalu tahun 75 tidak ada siswa lagi. Tapi alhamdulillah kekhawatiran itu tidak terjadi. Waktu terakhir berkunjung ke Muhi untuk mengisi acara KIR Pak Dumaery merasa sangat senang ketika mengetahui ada lebih dari 30 kelas di Muhi (kelas 1-3).
Kenangan lain yang masih lekat di benaknya adalah ketika gurunya, alm. Imran memarahi siswa siswa dengan mengatakan “Wis goblok, sekolahe neng SMA Kamandhiko, Ndeso meneh”. Itu adalah ungkapan Pak Imran yang justru memotivasi Pak Dumaery dan kawan kawan seangkatannya. Juga sebagai gambaran bahwa tahun tujuh puluhan SMA Muhi tentunya tidak semegah sekarang, bahkan sebaliknya terkesan, ndeso, kumuh dan untuk praktikum biologi masih menumpang di SPBma.
Pak Dumaery, selain mengajar di Fakultas Ekonomi UGM, beliau juga menjadi Pembina Olympiade Tingkat Nasional, bidang Ekonomi. Ibu Sri menambahkan “Sayang sekali ya jika SMA Muhi tidak memanfaatkan Pak Dumaery sedangkan beliau hampir tiap bulan keliling Indonesia untuk membina di berbagai sekolah”. Pak Dumaery dan istri bercerita bahwa semasa mereka kuliah S1, Pak Dumaery, Pak Muhni (yang sekarang kepala sekolah Muhi), Pak Mukib, Pak Widodo, dan beberapa kawan lain, selalu datang ke SMA Muhi Klaten menjelang masa ujian akhir bagi siswa kelas 3. Mereka datang dan memberikan semangat kepada adik adik yang mau ujian akhir, bahwa lulusan Muhi bisa ke sekolah sekolah favorit. Lalu masing-masing memberikan gambaran tentang kampus masing masing.
Saat ini Pak Dumaery bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Ekonomi UGM dan Finance Development Advisor di MM UGM. Saat ini beliau juga sedang mengambil S3 di UGM, sembari mengajar dan menjadi Pembina Olympiade Nasional, bidang Ekonomi. Pak Dumaery bisa di kontak melalui Hp di : 08164267755
Written on October 11th, 2009 by elis z anisno shouts
MUHAMMAD FAJAR SUMINTO, S. Ag.

Fajar adalah salah satu contoh alumni Muhi yang memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan. Meski maksud itu tidak bisa diraihnya begitu dia lulus SMA tahun 1996 yang lalu dan harus menundanya sampai tahun 2001 ketika dia diterima sebagai mahasiswa di IAIN (Sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selama kurun waktu 1996 – 2001 Fajar mengumpulkan bekal untuk kuliah dengan bekerja di tempat foto copy dan juga berjualan koran. Untuk menghidupi kesehariannya di Yogya, Fajar berjualan soal – soal ujian masuk IAIN dan ujian masuk universitas lain. Disamping itu Fajar juga sangat bersyukur bahwa selama kuliah di IAIN dia mendapatkan suasana kekeluargaan di KSR PMI IAIN Sunan Kalijaga. Mereka saling bahu membahu dan membantu satu sama lain.
Dorongan orang tua Fajar rupanya begitu kuat sehingga menghantarkan Fajar dan keempat saudaranya bersekolah di SMA Muhi Klaten. Menurut Fajar, dia dan kakaknya bisa saja diterima di SMA Negeri 3 Klaten, namun pilihan mereka jatuh ke SMA Muhi Klaten. Rupanya banyak alumni Muhi yang punya kisah yang sama, semua saudara menimba ilmu di SMA Muhi. Tentunya ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi SMA Muhi. Kepercayaan dan pilihan mereka tentu karena alasan yang kuat bahwa bersekolah di Muhi tidak hanya menimba ilmu umum, tapi juga diseimbangkan dengan ilmu agama.
Ketika di SMA Muhi dulu, Fajar menjadi Seksi Kepribadian di OSIS dan karena postur tubuhnya yang tinggi Fajar ikut ekstra kurikuler PBB. Guru favoritnya di SMA Muhi adalah Pak Aris Munawar. Menurutnya, pola pembelajaran yang diterapkan pak Aris membuat siswa aktif. Hal itu yang menjadikan alasan kenapa Pak Aris menjadi guru favoritnya.

Saat ini Fajar bekerja di lembaga penelitian “Survey Method” dan mengerjakan entry data, look-up (sortir data) dan meng asisteni koordinator lapangan.
Written on October 11th, 2009 by elis z anisone shout
Ir. Puji Wibawaty

Alumni SMA Muhi tahun 82 ini, setelah menamatkan kuliah di IPB, kemudian bekerja sebagai Pejabat Pembuat Komitment (PPK, dulu dikenal dengan nama Pimpro) di Dinas Pertanian Lampung Tengah. Sebelumnya mbak Puji bekerja di Dinas Pertanian provinsi Lampung. Baginya setiap pekerjaan adalah Ibadah dan sekaligus amanah. Mbak Puji selalu membagi kerjanya dengan staff karena dia yakin bahwa pekerjaan tidak bisa dilakukan sendiri. Hanya saja perlu perencanaan yang cermat, kontrol yang ketat, dan disiplin dalam menepati jadwal yang telah dibuat.
Perjalanan karirnya ke Lampung karena mengikuti suami (Drs, Haidir Syah) yang berasal dari lampung. Doanya untuk mendapatkan suami yang sholeh dan dapat membimbing dia dan keluarganya rupanya dikabulkan Yang Kuasa. Sang suami adalah alumni Pondok Pesantren Gontor dan telah menyelesaikan studi di Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mbak Puji dikaruniai empat anak: (1) Zahra Aulia FItri, 21 tahun, kuliah di UNY (2) Nabila Hanum, 17 tahun, SMA Al Kautsar Bandar Lampung, (3) Faiz Fahmi Baihaqy, SMA Muhi Klaten dan (4) Muthia Balqis, MTsN 2 Sukarame Bandar Lampung.

Kenangan tentang SMA Muhi Klaten ternyata tidak lepas dari benak Mbak Puji. Kenangan saat ditaksir oleh Guru Karate nya dan juga guru bahasa Inggris saat masih menjadi siswa di Muhi masih terkenang sampai sekarang. Selama sekolah di Muhi Klaten Mbak Puji selalu meraih prestasi sebagai JUARA UMUM. Namanya selalu terpampang di papan tulis kelasnya, ditulis di deretan paling atas karena prestasinya. Hingga lulus, dia bisa mempertahankan prestasinya sehingga bisa masuk ITB dengan bebas test. Boleh di bilang nilainya disemua mata pelajaran hampir selalu 10. Jika mendapatkan nilai 9 atau 8, Mbak Puji akan menangis dan sampai dirumah, tanpa ganti baju, langsung menganalisa jawaban jawaban nya dan mencari tahu dimana salahnya. Selain berprestasi di sekolah, teman sekelas Pak Saladin ini juga dikenal aktif di OSIS dan mengikuti ekstra kurikuler karate.
Mbak Puji mengungkapkan betapa dia sangat berterimakasih karena didikan SMA Muhi masih terbawa sampai sekarang, baik dalam dunia pekerjaannya maupun dalam bermasyarakat. Bagi Mbak Puji, kesuksesan tidak hanya selalu diukur dengan materi. Kesuksesan justru akan dilihat dari bagaimana kita membawa diri di masyarakat agar hidup kita berguna untuk orang lain. Mbak Puji juga menambahkan bahwa kunci sukses diantaranya dia tidak pernah meninggalkan tahajud, puasa senin kamis dan dhuha yang sudah dilakukannya sejak SMP. Kepada adik-adik siswa Muhi, Mbak Puji berpesan supaya selalu membentengi diri dengan iman yang ada di dalam diri dan semestinya selalu dipupuk.
Mbak Puji bisa dikontak melalui Hp nya di : 08154071392
Written on October 11th, 2009 by elis z anisno shouts
SALADIN, Ph. D

Putra kedua Bapak Thojib ini memilih menjadi mathematikawan setelah menyelesaikan S1 dan S2 nya di ITB jurusan Matematika Institut Tehnologi Bandung (ITB) dan S3 di Universiteit Twente, Belanda, di jurusan yang sama. Bagi Pak Saladin, salah satu tantangan sebagai mathematikawan yang juga menjadi perhatiannya adalah bagaimana mendekatkan GAP antara mathematikawan dengan pengguna matematika. Banyak industri yang beranggapan bahwa matematika itu murni hanya hitungan, padahal matematika juga sangat dibutuhkan dalam dunia industri. Sayangnya banyak idnustri Indonesia yang terlalu bergantung pada ahli dari luar negeri. Hal ini berimbas matematikawan Indonesia kurang tertantang dan kurang berkembang. Sebenarnya industri akan sangat diuntungkan oleh matematikawan dan sebaliknya matematikawan bisa lebih mengembangkan ilmu. Pentingnya ilmu matematika ini juga dirasakan dalam pengembangan ekonomi dunia.
Beberapa contoh yang diungkapkan oleh Pak saladin ketika menjelaskan hubungan antara matematika dan industri diantaranya adalah Laborat Hydro Dynamik, yang membuat simulasi ombak untuk kapal. Karakteristik Ombak itu berbeda, sehingga perlu uji coba dari kapal kapal yang berbeda. Lab Hydro Dynamik memiliki kolam ombak dan sekali menggerakkan biaya sangat banyak serta menggunakan system trial and error dan kadang sampai 15 kali baru berhasil. Sedangkan dengan menggunakan model matematika, bisa digerakkan dalam hitungan satu atau dua kali.
Pak Saladin saat ini mengajar di ITB dan baginya sangat menarik mengajar dan membimbing mahasiswa dari tahun ke tahun dan dari berbagai daerah. Menurut beliau, karakterikstik mahasiswa dari tahun ke tahun sangat berbeda. Selain mengajar di ITB, Pak Saladin juga menjadi pengurus Ikatan Alumni (IA) ITB. Beliau bercerita bahwa IA ITB dibagi dalam beberapa organisasi, diantara IA angaktan, IA daerah dan IA Pusat. Melalui IA, para alumni berusaha membantu dan memberikan yang terbaik bagi ITB.
Ketika ditanya masa SMA nya, Pak Saladin mengungkapkan bahwa beliau termasuk orang yang sangat menikmati masa kini. Kecuali kalau beliau bertemu dengan teman-teman SMA, baru beliau ingat kejadian-kejadian masa lalu. Mungkin kenangan terdalam bagi Pak saladin saat bersekolah di Muhi adalah beliau bisa belajar tentang (Alm.) Thojib, ayahnya, justru di sekolah. Diantaranya beliau belajar tentang integritas yang mesti dijunjung tinggi.
Keempat saudara Pak Saladin juga lulusan Muhi semua. Mereka adalah (1) Pak Manaruddin yang sekarang berprofesi sebagai pelaut (2) Pak Zulkarnain, guru SMAN Jatinom, sedang S2 di UGM (3) Hasan Besari, bekerja di Bogor dan (4) Setiyani Wardaningtyas di UNES.
Written on October 11th, 2009 by elis z anis4 shouts

Karena kecintaannya kepada binatang yang dirasakan sejak kecil. menghantarkan dia untuk memilih jurusan Nutrisi Ternak di Fakultas Peternakan UNDIP Semarang tahun 1991, dengan jalur PMDK. Sambil mengenang masa SMA nya, Mbak Himmah, begitu panggilan akrabnya, bercerita bahwa rasa sayang kepada binatang sudah tumbuh sejak kecil. Ketika dia mau sekolah dan melihat ada anak ayam yang terjatuh di sungai, Mbak Himmah akan segera menghentikan laju sepedanya dan mengambil anak ayam tersebut dan memastikan anak ayam tersebut aman dan terlindung.
Ditanya soal kenangan di SMA, Mbak Himmah tertawa sembari menjawab “Wah itu sudah lama sekali Nduk.” Lalu dia bercerita bahwa pada waktu bersekolah di SMA Muhi, dia terkenal sebagai siswa yang paling keras meminta agar SMA Muhammadiyah 1 Klaten mewajibkan siswi – siswi nya untuk memakai jilbab. Pada waktu itu memang hanya sedikit sekali siswa yang bersekolah dan memakai jilbab, mungkin tidak sampai 1 % dari jumlah keseluruhan siswa. Dengan segala keberaniannya, Mbak Himmah mengumpulkan tanda tangan ratusan siswa-siswi Muhi yang menjadi simbol dukungan mereka atas ide diwajibkannya siswa Muhi berjilbab.
Setelah lulus dari Muhi tahun 1991, Mbak Himmah melanjutkan S1 di Fakultas Peternakan UNDIP. Pada tahun 1996, Mbak Himmah melanjutkan kuliahnya di Pra Pasca UGM selama 6 bulan dengan beasiswa BPPS, yang kemudian dilanjutkan dengan program S2 di jurusan yang sama dan selesai pada tahun 2000. Tahun 2001 Mbak Hima melanjutkan ke jenjang S3 di Fakultas Peternakana UGM. Karena kesibukannya mengelola perusahaan (CV Hi-San Production), sampai sekarang Mbak Himmah belum menyelesaikan studi S3 nya.
Sejak SMA, Mbak Himma aktif di berbagai kegiatan organisasi, diantaranya menjadi ustadzah bagi 70 anak didik TPA. Ini pula yang sebenarnya memberatkan dia untuk pindah ke Semarang setelah lulus dari SMA. Selain itu, Mbak Himma juga aktif di Pimpinan Wilayah Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Jawa Tengah, sembari menuntut ilmu di Universitas Diponegoro Semarang. Seperti diungkapkan di buku Profile Pengusaha Indonesia “ Berjuang di IRM membutuhkan perjuangan moral dan materiil.” Dengan uang saku yang sangat terbatas, Mbak Hima akhirnya mulai berjualan baju ke teman teman kos nya sampai kemudian berkembang ke pedagang pedagang.
Agaknya naluri bisnis Mbak Himmah cukup kuat, sehingga dia memberanikan diri untuk mengembangkan perusahaan Garment di Klaten dan di Jakarta dengan pekerja sekitar 500 orang. Pada awalnya perusahaan Mbak Himmah, adalah perusahan Garment Export dan sudah bertahun-tahun melakukan export ke berbagai Negara, namun dengan kondisi krisis keuangan seperti sekarang ini, Mbak Himmah akan merubah perusahaanya menjadi perusahaan dengan market lokal. Diakuinya, dengan latar belakang aktivis dan jiwa sosialnya tidak mudah bagi Mbak Himmah untuk terhanyut dalam dunia kapitalisme bisnis nya. Berbagai masalah menerpa bisnisnya sehingga Mbak Himmah membuat berbagai rencana untuk keluar dari krisis yang menerpa perusahaannya. Mbak Himma yakin Allah sebagai penolong dalam setiap kesulitan.
Written on October 11th, 2009 by elis z anis5 shouts

RUSTIKA NUR ISTIQOMAH – kini lebih akrab dengan nama Rustika Herlambang – tak pernah sekalipun berpikir untuk menjadi wartawan seperti sekarang ini. Ketika masih menjadi murid di SMA Muhi (1987-1990), cita-citanya tegas: ingin menjadi seorang pramugari. Dia masih ingat benar ketika dipanggil Pak Thoyib, guru BP yang sangat populer , dan diberikan “pengarahan” mengenai betapa luasnya cita-cita yang bisa diraih. Namun siapa sangka, dia justru tertarik menjadi wartawan –seperti juga Pak Thoyib yang sering menulis untuk majalah Djoyoboyo- sejak selulus kuliah dari Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro, tahun 1995 hingga kini.
Saat ini, Mbak Tika, begitu dia disapa, sebagai Redaktur Eksekutif di Majalah Dewi, sebuah majalah gaya hidup terdepan di Indonesia. Sebelumnya, ia sempat bergabung sebagai wartawan fashion selama lebih dari 5 tahun di harian Media Indonesia, dan pernah meraih penghargaan pertama Fashion Journalist Award 2002 dari Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Meski demikian, dia mengaku lebih menikmati pengalamannya saat berhasil bertemu dengan petinggi Gerakan Aceh Merdeka di Swedia (satu-satunya wartawan Indonesia yang ditemui secara khusus di markas GAM Swedia), kisah orang-orang terbuang akibat peristiwa G30S PKI di Eropa, atau liputan investigasi yang memungkinkan dia untuk menyamar.

Rustika dan Putrinya, Lilu Herlambang

Rustika dan Lilu Herlambang
Bagi Mbak Tika, menjadi wartawan adalah hal yang sangat menyenangkan. Kehidupannya sarat dengan petualangan. Seperti tertuang dalam blog pribadinya, (www.rustikaherlambang.wordpress.com) dia mengungkapkan, “Bukan hanya tubuh yang mengelana ke ujung dunia, tapi juga pikiran-pikiran kita yang terus menerobos segala batas yang pernah ada. Aku sangat menikmatinya”. Apalagi kini dia menjadi redaktur profil yang memungkinkan dia bisa menyelami kehidupan nara sumbernya secara lebih personal – yang seperti diakuinya penuh dengan rahasia dan misteri. Mbak Tika bisa dikontak melalui email: rustika.herlambang@feminagroup.com
Written on October 11th, 2009 by elis z anisno shouts

TEGUH RAHAYU, alumni Muhi ’90 ini lahir di Klaten pada tanggal 27 Sept 1970 dan menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Akuntansi di STIE INABA pada tahun 1994. Sejak tahun 1993 mas Teguh bekerja di Departement Pajak Bandung. M Dua tahun sebelumnya (1991) dia pernah kuliah di UNKRIS Jakarta di Jurusan Ekonomi Manajement sambil jualan es di siang hari untuk membiayai hidupnya. Lalu di tahun yang sama dia pindah ke Bandung dan mengambil kuliah di STIE Bandung, sementara untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya, mas Teguh bekerja di wartel setelah kuliah. Mas Teguh juga pernah kuliah di Jurusan Management, Univ Bandung. Sayangnya hanya bertahan 2 tahun karena sering dinas keluar kota. Akhirnya mas Teguh menekuni pekerjaannya di Departement Perpajakan, juga karena terikat dengan Ikatan Dinas.
Disamping kerja di Departement Perpajakan, mas Teguh juga menekuni produksi organik. Mas Teguh mengungkapkan “Saya lihat peluang untuk bisnis di pertanian besar sekali dan ingin ikut melestarikan lingkungan akibat revolusi hijau dan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Hasil pertanian mestinya bebas dari residu (kandungan kimia yang tersisa di dalam makanan) dan aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak kita”. Lebih lanjut mas Teguh mengungkapkan bahwa dalam satu musim tanam petani nyemprot pestisida hampir 15 kali, biasa dibayangkan berapa banyak zat kimia yg ada didalam beras yang kita konsumsi sehari-hari.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa untuk hidup sehat kelihatannya lebih mahal. Misalnya saja harga beras organik cenderung lebih mahal dibandingkan beras biasa. Menanggapi hal ini mas Teguh menanggapi “Ya memang sehat itu mahal harganya, selama ini masyarakat kita terkecoh dgn yg mulus-mulus atau putih-putih, padahal kalau mau beli sayur bagus mestinya pilih yang banyak bolongnya. Bekas ulat itu lebih aman karena ulat saja tdk mati. Umur manusia sekarang ini tidak seperti dulu karena pola hidup kita yg tdk terkontrol lagi”.
Saat ini mas Teguh telah dikaruniai 3 anak: Hafiyyan Adji Widagdyo (8 tahun), Nabilla Ambarwati Rahayu (5 tahun) dan Rajendra Dimas Widagdyo (3 tahun), dari pernikahannya dengan Dwi Bekti Suprianti.

Mas Teguh Rahayu dan Keluarga
Saat ditanya soal pengalaman ketika sekolah di Muhi, Mas teguh dulu aktif di PMR dan dia menceritakan betapa bangganya dia saat lomba PMR dan menadapatkan juara umum. Waktu itu mas Teguh kelas 2 SMA. Pernah saat ikut lomba di Batur Ceper, tenda terkena angin kencang, dan roboh semua. Mas Teguh juga mengungkapkan bahwa di kelas, dia bukan termasuk anak yang pintar, karenanya gak banyak disukai oleh teman-teman ceweknya di SMA dulu.
Mas Teguh bisa dikontak melalui Hp di 081 220 402 86
Written on October 5th, 2009 by elis z anis4 shouts

SETYAWAN HESTI WAHJUDI, yang biasa dipanggil Hesti atau Tebok, punya cita-cita menjadi petani. Pria kelahiran 1 Oktober 1969 ini awalnya tidak ingin melanjutan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi. Tapi akhirnya karena diterima di ITB Jurusan Geologi, maka dia harus memenuhi janji kepada orangtua nya untuk menyelesaikan kuliah sampai akhir. Hesti mengungkapkan “Ini keajaiban dunia, saya diterima di ITB. Ternyata doa orangtua lebih kuat. Hesti lulus tahun 95 dan terkenal bandel pada waktu sekolah di SMA Muhi dulu. Dia juga suka “ngeyel “ sama gurunya, termasuk Pak Muhni. Kadang-kadang pada waktu pelajaran, dia suka tertidur. Tapi karena dia selalu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan, dia terbebas dari kemarahan guru-gurunya.
Setelah menyelesaikan studi di ITB tahun 1994, Hesti bekerja sebagai konsultan tambang di Bandung selama 2 tahun. Kemudian dia pindah ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan dan bersama teman-teman nya mendirikan perusahan trading batu bara. Pada tahun 2007, Hesti mendirikan perusahan konsultan dan agensi perdagangan batubara yang diberi nama “Karya Citra Barathama”. Perusahaannya juga menjadi perwakilan buyer pembeli dari luar negeri. Bagi Hesti, keberhasilan dan kegagalan sama-sama merupakan suatu ujian yang dihadapi, dan itu rupanya yang menjadi salah satu kunci sukses Hesti.


Mas Hesti memberikan breafing pada staf nya


Pada tanggal 9 Februari 1993 Hesti mempersunting Harini Suprapti sebagai istri. Harini yang biasa disapa “Rin” juga alumni SMA Muhi Klaten. Rupanya banyak cinta bersemi di SMA Muhi Klaten. Pada waktu Hesti kuliah di ITB, Harini kuliah di Akper RS Islam Jakarta. Hesti dikaruniai 3 anak: Wahyuningtyas (15 tahun), Iqbal (12 tahun) dan khomsa (5 tahun).

Hesti dan istri, Harini, sama sama Alumni Muhi Klaten

Mas Hesti dan Keluarga
Ditanya soal pengalaman yang berkesan selama di SMA, Hesti menjawab
“ Pernah di kejar kejar Pak Thoyib dan disuruh potong rambut”. Untungnya Hesti selalu bisa mempertahankan kan prestasinya sebagai juara kelas sehingga terhindar dari kemarahan Pak Toyib. Dibawah bimbingan Pak Endar, Hesti juga pernah juara II LKIR tingkat nasional tahun 86. Dan juara 1 LKIR di Klaten pada tahun 85, tentang Bleduk Kuwu di Purwodadi.
Written on October 5th, 2009 by elis z anisno shouts
Untuk sebuah event besar, semestinya memang harus dipersiapkan jauh jauh hari. Reuni akbar kali ini dipersiapkan hanya 2 bulan sebelum pelaksanaan, sehingga sangat disadari disana sini masih banya kekurangan yang harus dibenahi di masa yang akan datang.
Dibawah ini beberapa catatan evaluasi, baik dari panitia maupun dari alumni yang disampaikan kepada panitia:
1. Persiapan : sebaiknya Reuni Akbar dipersiapkan paling tidak 4 bulan sebelumnya sehingga akan lebih optimal dalam mencari sponsorship dan menyebarluaskan informasi Reuni/undangan
2. Waktu Pelaksanaan: Reuni yang diselenggarakan setelah lebaran dirasakan sebagai waktu terbaik. Usulan dari Mbak Puji, Mbak Antiq , Ibu Sri Pilihaningtyas dan beberapa alumni lain bahwa pelaksanaan reuni sebaiknya hari ketiga lebaran, kalau hari ke 5 biasanya sudah banyak yang balik kerja.
3. Bakti Sosial ke Panti Asuhan supaya lebih di rencanakan dengan baik dan dilakukan survey awal ke Panti Asuhan sehingga tahu Panti asuhan yang masih aktif dan membutuhkan bantuan.
4. Saran dari mas Teguh sebaiknya acara bakti sosial ini dilaksanakan setiap tahun dan sebaiknya dilaksanakan sebelum lebaran, sehingga alumni juga bisa menyalurkan zakat infaq nya melalui SMA Muhi. Acara bisa berupa buka bersama mengundang anak Panti Asuhan lalu menyerahkan zakat dan infaq ke masyarakat yang berhak menerimanya.
5. Banyak alumni yang tidak mendapatkan undangan reuni karena data base nya tidak tersedia. Kedepan perlu difikirkan publikasi yang lebih optimal sehingga lebih banyak alumni yang tahu dan berpartisipasi. Reuni Akbar tahun ini telah menyebarkan sekitar 4000 undangan hard copy dan juga ratusan undangan melalui facebook. Perlu pula diperhatikan masukan dari salah satu alumni, bahwa tidak semua alumni mendapatkan akses internet dan tergabung dalam facebook, sehingga undangan semestinya juga mencapai alumni yang tidak mendapatkan akses internet. Mas Hasan Besari memberikan masukan supaya kita membentuk kontak person per angkatan atau per daerah sehingga diharapkan undangan bisa lebih maksimal.
6. Pendampingan OSIS. Alumni perlu mendampingi kerja dari adik adik OSIS. Mereka sangat bersemangat, tapi memang belum banyak pengalaman, sehingga kalau tidak diarahkan dan didampingi, hasil kerjanya kurang optimal. Peran mereka tentunya sangat vital dalam kepanitiaan, khususnya pada waktu persiapan dan hari H.
7. Acara Reuni Akbar dirasa paling effektif mulai jam 9 sampai jam 1 siang. Sehingga perlu dirancang acara yang efektif dan efisien. Bisa juga acara dibagi dalam 2 tahap. Yang pertama acara semua alumni di aula, seperti yang dilakukan dalam Reuni Akbar kemaren. Setelah makan siang acara bisa dilanjutkan pertemuan per angkatan. Untuk Band dirasakan sangat meneghibur dan bisa terus direkomendasikan untuk reuni yan akan datang jika budget nya ada. Juga acara lucky draw atau doorprize cukup menghibur peserta.
8. Untuk suvenir yang dijual, paling laku adalah mug, kemudian payung,pin dan gantungan kunci.
9. Pemesanan kaos dan pengambilan bisa menjadi hal yang agak ribet. Perlu kehati hatian dan extra teliti untuk mengurusi masalah ini.
10. Untuk lebih memudahkan kerja panitia, sebaiknya pendaftaran via transfer sebaiknya langsung di konfirmasikan kepada panitia karena ada beberapa pendaftar yang sudah mentransfer tapi tidak langdung konfirmasi ke panitia.
11. Biaya Reuni yang paling ideal adalah Rp. 30.000 bagi yang masih kuliah atau belum bekerja. Untuk yang sudah bekerja bisa memberikan lebih sebagai bantuan pembiayaan acara dan donasi bakti sosial. Untuk tahun yang akan datang tentunya bisa disesuaikan.
12. Untuk lebih menghemat pengeluaran, undangan yang dikirimkan hardcopy sebaiknya hanya 2 lembar bolak balik, undangan dan acara. Sedangkan untuk biodata bisa diisi ketika Reuni berlangsung.
13. Profile Alumni untuk yang akan datang mudah mudahan lebih beragam.
14. Perlu mengoptimalkan alumni yang bekerja di media untuk publikasi.
Untuk evaluasi selanjutnya, silahkan teman teman panitia lain bisa menambahkan. Juga terbuka bagi alumni yang ingin memberikan masukan evaluasi dan rekomendasinya untuk pelaksanaan reuni kedepan.
Salam hangat dari DjogjA,
Elis
Older Posts »