Archive for January, 2010:

Lowongan Project Asistant API

Written on January 13th, 2010 by elis z anisno shouts

Terms of Reference

Project Assistant – API Regional Project

Post Title                                       : Project Assistant

Nationality                                   : Indonesian National

Location/Duty Station           : Yogyakarta , Indonesia

Duration of Assignment         : 1 Year (possible extension) with 3-month Probation

Starting Date                               : Immediate

Direct Supervisor                  : API RP Manager

ackground

The Asian Public Intellectuals (API) Regional Project focuses on the issue of community-based initiatives and how human-ecological balance is achieved. Project sites are spread in five countries namely in Japan , Thailand , the Philippines , Malaysia and Indonesia . The Regional Project serves as a platform to build collaboration among API fellows and community of practitioners in the hope to contribute positively to the public in these different Asian countries and contexts.

The Regional Project activities can be categorized as follows:

  1. Field research
  2. Artistic expressions
  3. Site visits to the five countries
  4. Engagement with local communities
  5. Dissemination of information through the media
  6. Trans-border knowledge engagement through seminars and workshops

The main objective of the API Regional Project is to build a sustaining API Community in the five countries, and to produce high quality and high impact regional products in the form of a digital documentary, a website and a book. In their final forms, these regional products are expected to function as social networking and marketing tools for both the API Community and The Nippon Foundation.

As enunciated in the Regional Project Document, the thrust of the API Regional Project is to promote a holistic and multi-disciplinary approach towards understanding and highlighting the environmental crisis faced by communities in the Asian region. In particular, it focuses on how local wisdom and community-based initiatives have been garnered to deal with this crisis and to attempt to restore human-ecological balance. Through its site-based activities in the five API participating countries, it hopes:

  1. To deepen relationships between the API fellows and the local communities;
  2. To draw from local wisdom and perspectives in order to better understand the specificities of each site as well as to consolidate these insights to develop regional perspectives on ecological threats and appropriate community action to overcome them.

Duties and Responsibilities

Under the direct supervision of API RP Manager, Project Assistant provides direct administrative support and secretarial assistance to the Regional Project. Specifically, the Project Assistant will carry out the following duties and responsibilities:

  • Maintains, organizes and manages administrative functions. This includes maintaining the Regional Project and supervisor’s calendars, receiving visitors, event organizing and routine secretarial duties;
  • Ensures proper application of administrative rules and standard operating procedures, including data filing and knowledge management on the Regional Project;
  • Establishes system of travel, and processes purchasing of air tickets;
  • Records all expenses, retains all receipts and manages them in a systematic data filing system;
  • Assists the supervisor in managing the financial management of the Regional Project;
  • Assists the supervisor in writing bi-annual reports;
  • Ensures that office supplies, equipment and logistics are readily available;
  • Responds to queries by visitors about the API fellowship;
  • Regularly updates supervisor on the work, minimally once a week;
  • Undertakes other work as set by the supervisor.

Qualification Requirements

The successful candidate will be one who meets the following criteria and performance dimensions:

  • Bachelors (S1) degree from local or international university with at least three years related experience or D3 with seven years of related experience;
  • Some form of training in administrative work and secretarial duties;
  • Good verbal and written communication skills in English and Bahasa Indonesia;
  • Demonstrated ability to apply information technology tools and automated systems including Windows, MS Word, Microsoft Excel and the Internet;
  • Well-developed interpersonal skills and high level of emotional intelligence;
  • A disciplined, self-starter and able to work independently with minimal supervision;
  • A strong team player, who is able to work under stress;
  • Familiarity with international standards of organizational management is required;
  • Previous experience with international development agencies is a definite advantage.

ONLY SHORTLISTED CANDIDATES WILL BE CONTACTED

Dicky Sofjan, Ph.D.
Founder/Chairman of INA Frontier &
Asian Public Intellectuals (API)
Regional Project Manager – The Nippon Foundation Cell: +628121095544
Flexi: 0274-9185112
I never did give anybody hell. I just told the truth and they thought it was hell
- Harry S. Truman

Filed under Informasi Lowongan Pekerjaan Tags:

UANG RECEH

Written on January 12th, 2010 by elis z anis3 shouts

Sebagai pengguna sepeda motor, hampir dipastikan seminggu sekali aku mengisi BBM. Karena tidak ada aktivitas, biasanya aku melihat pada metering yang mengukur berapa liter BBM yang kita isi dan berapa rupiah uang yang harus kita keluarkan. Selalu, pengendara sepeda motor harus membayar lebih dari apa yang tertera di metering BBM, entah disadari atau tidak. Meskipun itu jumlahnya kecil. Misalnya tertera disitu IDR. 17.610, dan petugas nya akan bilang 18.000 Mbak. Artinya ada IDR 390 yang seharusnya di kembalikan, dan itu harusnya mungkin, karena ada pecahan IDR. 100, paling tidak dikembalikan IDR. 300. Jika saja petugasnya bilang “Mbak, ini yang 390 buat saya ya”, pasti saya bilang iya. Tapi dia tidak pernah bilang seperti itu. Hal ini terjadi hampir setiap kali saya isi BBM. Pernah saya iseng bilang ke petugasnya : “Lho mas, kok kembaliannya kurang 300 rupiah, itu ada logo Pasti PAS disitu, berarti Cuma slogan donk”. Orangnya tampak terkejut dan tidak menyangka saya akan bilang seperti itu.

Bagi pengendara sepeda motor, mungkin uang receh 300 rupiah sampai 500, mungkin tidak akan begitu berarti karena nilai uang juga semakin turun. Akan tetapi sesungguhnya nilai kejujuran itu bisa berawal dari hal-hal yang kecil. Bisa jadi gaji pegawai BBM itu tidak terlalu tinggi, tapi itu tidak berarti dia bisa memperlakukan pelanggan seperti itu. Saya justru terkesan ketika belanja di Superindo dan ada sisa 80 Rupiah, lalu Cashier bertanya apakah 80 rupiah bisa disumbangkan untuk UNICEF? Jadi daripada permen, mereka bekerja sama dengan UNICEF untuk menyalurkan sumbangan dari uang kembalian consumer yang berbelanja. Saya kira itu bagus.

Pengalaman lain, ketika hari Minggu berbelanja di pasar tradisional dekat rumah, para mbok-mbok yang menjual dagangan saling bernego bahkan untuk uang 100 rupiah. Saya tersadar, bahwa uang receh bisa sangat berarti bagi wong cilik, mbok-mbok yang menjual hasil tanaman kebunnya, mbok-mbok yang tidak pernah masuk ke supermarket. Receh demi receh mereka kumpulkan untuk sesuap nasi. Alangkah bedanya dengan receh demi receh yang diambil secara “tidak halal” oleh pegawai BBM. Tentunya tidak semua pegawai BBM punya prilaku seperti itu, apalagi BBM yang menerapkan aturan ketat. Menurut saya, semua lebih kepada kepribadian pegawai tersebut. Kalaupun disitu memungkinkan untuk berlaku curang, kalau dalam dirinya sudah ada kejujuran, maka seharusnya itu tidak akan terjadi. Bayangkan saja berapa banyak pengendara sepeda motor yang diambil receh nya dikalikan berapa hari, berapa bulan? Mudah-mudahan kita terhindar dari prilaku yang seperti itu. 100 rupiah, 200 rupiah bisa sangat berarti bagi orang lain. Jalan halal harus selalu ditempuh dan kejujuran adalah kunci utama dalam setiap aspek kehidupan kita.

Yogya, 12 Jan 2010

Elis, Alumni Muhi  ‘94

Filed under Celoteh alumni Tags:

Money Talks di Rutan – Catatan Keprihatinan

Written on January 11th, 2010 by elis z anis3 shouts

Dalam hidupku, aku tidak pernah mengenal lika liku kehidupan penjara (rutan), sampai ketika itu aku rutin ke salah satu Rutan di Jawa Tengah karena salah satu family ku ditahan di Rutan itu, bukan karena kriminalitas, tapi karena kecelakaan. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, ketika tiba tiba dengan sangat cepat ada pengendara sepeda motor yang memotong jalan dan tanpa menggunakan helm. Tabrakan pun tidak terhindarkan, adik iparku selamat, meski mobil yang dikendarai rusak total. Sementara pengendara sepeda motor tersebut segera dilarikan ke rumah sakit dan beberapa jam kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Sesuai dengan hukum yang berlaku, saudaraku itu divonis penjara 6 bulan dan harus membayar sekian juta rupiah ke Pengadilan. Alhamduliah, dia sekarang sudah keluar dari Rutan itu.

Ketika masih di rutan, aku melihat saudaraku dan teman-temannya tampak sangat tidak terurus. Tubuh mereka terlihat jauh lebih kurus, dengan mata cekung karena kurang istirahat. Bukan karena mereka tidak diberikan jam istirahat, tapi karena tempat yang mereka huni jauh dari kata “manusiawi”. Lebih dari 20 orang berjejal dalam kamar berukuran 3 x 4 meter. Untuk tidur, mereka harus bergantian, dan harus dalam posisi miring. Beberapa penghuni rutan senior disegani dan sering memaksa pendatang baru, tidak terkecuali saudaraku itu.

Setiap orang yang berkunjung ke rutan itu diberikan kartu dan dibatasi waktu kunjungnya, tidak boleh lebih dari 30 menit. Kalau ingin memperpanjang, harus menyelipkan sebungkus rokok dan beberapa puluh ribu rupiah. Keluarga ingin waktu lebih lama dan para sipir itu tentu saja tidak menolak rokok dan uang perpanjangan waktu. Maka tradisi seperti ini terus berkembang. Rasanya penjara atau rutan selalu terkait dengan uang. Aku jadi ingat buku “Jurnalisme Sastrawi” yang salah satunya menceritakan kehidupan dari rutan ke rutan beserta besarnya uang yang harus di setor kepada setiap pos.

Hari ini, aku seperti orang yang shock  mendengar berita di TV yang terus di ulang ulang tentang “Istana di Dalam penjara”. Kisah indah kasus terpidana korupsi Artalyta Suryani (Ayin), yang bisa menyulap penjara nya menjadi sebuah istana dengan berbagai fasilitas mewahnya, termasuk dokter kecantikan yang memberikan perawatan kepada Ayin. Mungkin benar apa yang di katakan dosenku dulu, bahwa “Money Talks”. Bahwa uang bisa merubah banyak hal. Bahwa banyak orang yang akan menjadi silau dengan uang yang melimpah.

Tidak pernah terfikir kehidupan di penjara akan menjadi istana seperti yang di alamai Ayin. Aku selalu mengira kehidupan penjara, sepenting apapun orang tersebut, tidak akan punya keluasaan yang melampau batas. Pada saat yang sama saudaraku ditahan, Bupati setempat juga ditahan karena dugaan korupsi. Istimewanya dia tinggal satu kamar sendiri. Hanya itu. Aku juga dengar di rutan itu, kalau mau kamar lebih luas dengan lebih sedikit penghuni, harus membayar sekian juta. Saudaraku ditawari juga, tapi dia sepertinya tidak mau buang-buang uang dan rela berdesak-desakan sampai vonis bebas nya.

Peristiwa Ayin ini tentunya membuka mata banyak pihak. Membawa sebuah keprihatinan tentang dunia kelam di Rutan dan semua pihak terkait. Entah sudah berapa banyak Ayin-Ayin yang lain yang tidak terungkap. Kemewahan yang dia nikmati di penjara tentu membawa sakit yang mendalam. Betapa penghuni rutan di bedakan nasibnya, pelayannya, hanya berdasarkan uang. Money Talks. Mudah-mudahan Pemerintah bisa menindak tegas dan tidak sekalipun memberikan pembenaran sikap Ayin dan pihak yang telah memfasilitasinya. Smoga.

Filed under Celoteh alumni, Renungan Tags:

“MANDIKAN AKUUUUU BUNDA…..”

Written on January 11th, 2010 by elis z anisone shout

Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis. Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang dimilikinya sampai akhirnya …..

Rani, sebut saja begitu namanya. Wanita ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, elanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel”, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
ALIFYA, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar : Alifya. (more…)

Filed under Renungan Tags:,