Archive for the ‘Celoteh alumni’ Category:

UANG RECEH

Written on January 12th, 2010 by elis z anis3 shouts

Sebagai pengguna sepeda motor, hampir dipastikan seminggu sekali aku mengisi BBM. Karena tidak ada aktivitas, biasanya aku melihat pada metering yang mengukur berapa liter BBM yang kita isi dan berapa rupiah uang yang harus kita keluarkan. Selalu, pengendara sepeda motor harus membayar lebih dari apa yang tertera di metering BBM, entah disadari atau tidak. Meskipun itu jumlahnya kecil. Misalnya tertera disitu IDR. 17.610, dan petugas nya akan bilang 18.000 Mbak. Artinya ada IDR 390 yang seharusnya di kembalikan, dan itu harusnya mungkin, karena ada pecahan IDR. 100, paling tidak dikembalikan IDR. 300. Jika saja petugasnya bilang “Mbak, ini yang 390 buat saya ya”, pasti saya bilang iya. Tapi dia tidak pernah bilang seperti itu. Hal ini terjadi hampir setiap kali saya isi BBM. Pernah saya iseng bilang ke petugasnya : “Lho mas, kok kembaliannya kurang 300 rupiah, itu ada logo Pasti PAS disitu, berarti Cuma slogan donk”. Orangnya tampak terkejut dan tidak menyangka saya akan bilang seperti itu.

Bagi pengendara sepeda motor, mungkin uang receh 300 rupiah sampai 500, mungkin tidak akan begitu berarti karena nilai uang juga semakin turun. Akan tetapi sesungguhnya nilai kejujuran itu bisa berawal dari hal-hal yang kecil. Bisa jadi gaji pegawai BBM itu tidak terlalu tinggi, tapi itu tidak berarti dia bisa memperlakukan pelanggan seperti itu. Saya justru terkesan ketika belanja di Superindo dan ada sisa 80 Rupiah, lalu Cashier bertanya apakah 80 rupiah bisa disumbangkan untuk UNICEF? Jadi daripada permen, mereka bekerja sama dengan UNICEF untuk menyalurkan sumbangan dari uang kembalian consumer yang berbelanja. Saya kira itu bagus.

Pengalaman lain, ketika hari Minggu berbelanja di pasar tradisional dekat rumah, para mbok-mbok yang menjual dagangan saling bernego bahkan untuk uang 100 rupiah. Saya tersadar, bahwa uang receh bisa sangat berarti bagi wong cilik, mbok-mbok yang menjual hasil tanaman kebunnya, mbok-mbok yang tidak pernah masuk ke supermarket. Receh demi receh mereka kumpulkan untuk sesuap nasi. Alangkah bedanya dengan receh demi receh yang diambil secara “tidak halal” oleh pegawai BBM. Tentunya tidak semua pegawai BBM punya prilaku seperti itu, apalagi BBM yang menerapkan aturan ketat. Menurut saya, semua lebih kepada kepribadian pegawai tersebut. Kalaupun disitu memungkinkan untuk berlaku curang, kalau dalam dirinya sudah ada kejujuran, maka seharusnya itu tidak akan terjadi. Bayangkan saja berapa banyak pengendara sepeda motor yang diambil receh nya dikalikan berapa hari, berapa bulan? Mudah-mudahan kita terhindar dari prilaku yang seperti itu. 100 rupiah, 200 rupiah bisa sangat berarti bagi orang lain. Jalan halal harus selalu ditempuh dan kejujuran adalah kunci utama dalam setiap aspek kehidupan kita.

Yogya, 12 Jan 2010

Elis, Alumni Muhi  ‘94

Filed under Celoteh alumni Tags:

Money Talks di Rutan – Catatan Keprihatinan

Written on January 11th, 2010 by elis z anis3 shouts

Dalam hidupku, aku tidak pernah mengenal lika liku kehidupan penjara (rutan), sampai ketika itu aku rutin ke salah satu Rutan di Jawa Tengah karena salah satu family ku ditahan di Rutan itu, bukan karena kriminalitas, tapi karena kecelakaan. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, ketika tiba tiba dengan sangat cepat ada pengendara sepeda motor yang memotong jalan dan tanpa menggunakan helm. Tabrakan pun tidak terhindarkan, adik iparku selamat, meski mobil yang dikendarai rusak total. Sementara pengendara sepeda motor tersebut segera dilarikan ke rumah sakit dan beberapa jam kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Sesuai dengan hukum yang berlaku, saudaraku itu divonis penjara 6 bulan dan harus membayar sekian juta rupiah ke Pengadilan. Alhamduliah, dia sekarang sudah keluar dari Rutan itu.

Ketika masih di rutan, aku melihat saudaraku dan teman-temannya tampak sangat tidak terurus. Tubuh mereka terlihat jauh lebih kurus, dengan mata cekung karena kurang istirahat. Bukan karena mereka tidak diberikan jam istirahat, tapi karena tempat yang mereka huni jauh dari kata “manusiawi”. Lebih dari 20 orang berjejal dalam kamar berukuran 3 x 4 meter. Untuk tidur, mereka harus bergantian, dan harus dalam posisi miring. Beberapa penghuni rutan senior disegani dan sering memaksa pendatang baru, tidak terkecuali saudaraku itu.

Setiap orang yang berkunjung ke rutan itu diberikan kartu dan dibatasi waktu kunjungnya, tidak boleh lebih dari 30 menit. Kalau ingin memperpanjang, harus menyelipkan sebungkus rokok dan beberapa puluh ribu rupiah. Keluarga ingin waktu lebih lama dan para sipir itu tentu saja tidak menolak rokok dan uang perpanjangan waktu. Maka tradisi seperti ini terus berkembang. Rasanya penjara atau rutan selalu terkait dengan uang. Aku jadi ingat buku “Jurnalisme Sastrawi” yang salah satunya menceritakan kehidupan dari rutan ke rutan beserta besarnya uang yang harus di setor kepada setiap pos.

Hari ini, aku seperti orang yang shock  mendengar berita di TV yang terus di ulang ulang tentang “Istana di Dalam penjara”. Kisah indah kasus terpidana korupsi Artalyta Suryani (Ayin), yang bisa menyulap penjara nya menjadi sebuah istana dengan berbagai fasilitas mewahnya, termasuk dokter kecantikan yang memberikan perawatan kepada Ayin. Mungkin benar apa yang di katakan dosenku dulu, bahwa “Money Talks”. Bahwa uang bisa merubah banyak hal. Bahwa banyak orang yang akan menjadi silau dengan uang yang melimpah.

Tidak pernah terfikir kehidupan di penjara akan menjadi istana seperti yang di alamai Ayin. Aku selalu mengira kehidupan penjara, sepenting apapun orang tersebut, tidak akan punya keluasaan yang melampau batas. Pada saat yang sama saudaraku ditahan, Bupati setempat juga ditahan karena dugaan korupsi. Istimewanya dia tinggal satu kamar sendiri. Hanya itu. Aku juga dengar di rutan itu, kalau mau kamar lebih luas dengan lebih sedikit penghuni, harus membayar sekian juta. Saudaraku ditawari juga, tapi dia sepertinya tidak mau buang-buang uang dan rela berdesak-desakan sampai vonis bebas nya.

Peristiwa Ayin ini tentunya membuka mata banyak pihak. Membawa sebuah keprihatinan tentang dunia kelam di Rutan dan semua pihak terkait. Entah sudah berapa banyak Ayin-Ayin yang lain yang tidak terungkap. Kemewahan yang dia nikmati di penjara tentu membawa sakit yang mendalam. Betapa penghuni rutan di bedakan nasibnya, pelayannya, hanya berdasarkan uang. Money Talks. Mudah-mudahan Pemerintah bisa menindak tegas dan tidak sekalipun memberikan pembenaran sikap Ayin dan pihak yang telah memfasilitasinya. Smoga.

Filed under Celoteh alumni, Renungan Tags:

Profile Alumni 7: MUHAMMAD FAJAR SUMINTO, S. Ag.

Written on October 11th, 2009 by elis z anisno shouts

MUHAMMAD FAJAR SUMINTO, S. Ag.

Fajar2 copy

Fajar adalah salah satu contoh alumni Muhi yang memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan. Meski maksud itu tidak bisa diraihnya begitu dia lulus SMA tahun 1996 yang lalu dan harus menundanya sampai tahun 2001 ketika dia diterima sebagai mahasiswa di IAIN (Sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selama kurun waktu 1996 – 2001 Fajar mengumpulkan bekal untuk kuliah dengan bekerja di tempat foto copy dan juga berjualan koran. Untuk menghidupi kesehariannya di Yogya, Fajar berjualan soal – soal ujian masuk IAIN dan ujian masuk universitas lain. Disamping itu Fajar juga sangat bersyukur bahwa selama kuliah di IAIN dia mendapatkan suasana kekeluargaan di KSR PMI IAIN Sunan Kalijaga. Mereka saling bahu membahu dan membantu satu sama lain.

Dorongan orang tua Fajar rupanya begitu kuat sehingga menghantarkan Fajar dan keempat saudaranya bersekolah di SMA Muhi Klaten. Menurut Fajar, dia dan kakaknya bisa saja diterima di SMA Negeri 3 Klaten, namun pilihan mereka jatuh ke SMA Muhi Klaten. Rupanya banyak alumni Muhi yang punya kisah yang sama, semua saudara menimba ilmu di SMA Muhi. Tentunya ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi SMA Muhi. Kepercayaan dan pilihan mereka tentu karena alasan yang kuat bahwa bersekolah di Muhi tidak hanya menimba ilmu umum, tapi juga diseimbangkan dengan ilmu agama.

Ketika di SMA Muhi dulu, Fajar menjadi Seksi Kepribadian di OSIS dan karena postur tubuhnya yang tinggi Fajar ikut ekstra kurikuler PBB. Guru favoritnya di SMA Muhi adalah Pak Aris Munawar. Menurutnya, pola pembelajaran yang diterapkan pak Aris membuat siswa aktif. Hal itu yang menjadikan alasan kenapa Pak Aris menjadi guru favoritnya.

Fajar1 copy

Saat ini Fajar bekerja di lembaga penelitian “Survey Method” dan mengerjakan entry data, look-up (sortir data) dan meng asisteni koordinator lapangan.

Filed under Celoteh alumni Tags:

Profile Alumni 6: Ir. PUJI WIBAWATY

Written on October 11th, 2009 by elis z anisone shout

Ir. Puji Wibawaty

Puji copy

Alumni SMA Muhi tahun 82 ini, setelah menamatkan kuliah di IPB, kemudian bekerja sebagai Pejabat Pembuat Komitment (PPK, dulu dikenal dengan nama Pimpro) di Dinas Pertanian Lampung Tengah. Sebelumnya mbak Puji bekerja di Dinas Pertanian provinsi Lampung. Baginya setiap pekerjaan adalah Ibadah dan sekaligus amanah. Mbak Puji selalu membagi kerjanya dengan staff karena dia yakin bahwa pekerjaan tidak bisa dilakukan sendiri. Hanya saja perlu perencanaan yang cermat,  kontrol yang ketat,  dan disiplin dalam menepati jadwal yang telah dibuat.

Perjalanan karirnya ke Lampung karena mengikuti suami (Drs, Haidir Syah) yang berasal dari lampung. Doanya untuk mendapatkan suami yang sholeh dan dapat membimbing dia dan keluarganya rupanya dikabulkan Yang Kuasa. Sang suami adalah alumni Pondok Pesantren Gontor dan telah menyelesaikan studi di Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mbak Puji dikaruniai empat anak:  (1) Zahra Aulia FItri, 21 tahun, kuliah di UNY  (2) Nabila Hanum, 17 tahun, SMA Al Kautsar Bandar Lampung, (3) Faiz Fahmi Baihaqy, SMA Muhi Klaten dan (4) Muthia Balqis, MTsN 2 Sukarame Bandar Lampung.

My Famz. copy

Kenangan tentang SMA Muhi Klaten ternyata tidak lepas dari benak Mbak Puji. Kenangan saat ditaksir oleh Guru Karate nya dan juga guru bahasa Inggris saat masih menjadi siswa di Muhi masih terkenang sampai sekarang. Selama sekolah di Muhi Klaten Mbak Puji selalu meraih prestasi sebagai JUARA UMUM. Namanya selalu terpampang di papan tulis kelasnya, ditulis di deretan paling atas karena prestasinya. Hingga lulus, dia bisa mempertahankan prestasinya sehingga bisa masuk ITB dengan bebas test. Boleh di bilang nilainya disemua mata pelajaran hampir selalu 10. Jika mendapatkan nilai 9 atau 8, Mbak Puji akan menangis dan sampai dirumah, tanpa ganti baju, langsung menganalisa jawaban jawaban nya dan mencari tahu dimana salahnya. Selain berprestasi di sekolah, teman sekelas Pak Saladin ini juga dikenal aktif di OSIS dan mengikuti ekstra kurikuler karate.

Mbak Puji mengungkapkan betapa dia sangat berterimakasih karena didikan SMA Muhi masih terbawa sampai sekarang, baik dalam dunia pekerjaannya maupun dalam bermasyarakat. Bagi Mbak Puji, kesuksesan tidak hanya selalu diukur dengan materi. Kesuksesan justru akan dilihat dari bagaimana kita membawa diri di masyarakat agar hidup kita berguna untuk orang lain. Mbak Puji juga menambahkan bahwa kunci sukses diantaranya dia tidak pernah meninggalkan tahajud, puasa senin kamis dan dhuha yang sudah dilakukannya sejak SMP. Kepada adik-adik siswa Muhi, Mbak Puji berpesan supaya selalu membentengi diri dengan iman yang ada di dalam diri dan semestinya selalu dipupuk.

Mbak Puji bisa dikontak melalui Hp nya di : 08154071392

Filed under Celoteh alumni Tags:

Profile Alumni 5: SALADIN, Ph. D.

Written on October 11th, 2009 by elis z anisno shouts

SALADIN, Ph. D

DSC_6076 copy

Putra kedua Bapak Thojib ini memilih menjadi mathematikawan setelah menyelesaikan  S1 dan S2 nya di ITB jurusan Matematika Institut Tehnologi Bandung (ITB) dan S3  di Universiteit Twente, Belanda, di jurusan yang sama. Bagi Pak Saladin, salah satu tantangan sebagai mathematikawan yang juga menjadi perhatiannya adalah bagaimana mendekatkan GAP antara mathematikawan dengan pengguna matematika. Banyak industri yang beranggapan bahwa matematika itu murni hanya hitungan, padahal matematika juga sangat dibutuhkan dalam dunia industri. Sayangnya banyak idnustri Indonesia yang terlalu bergantung pada ahli dari luar negeri. Hal ini berimbas matematikawan Indonesia kurang tertantang dan kurang berkembang. Sebenarnya industri akan sangat diuntungkan oleh matematikawan dan sebaliknya matematikawan bisa lebih mengembangkan ilmu. Pentingnya ilmu matematika ini juga dirasakan dalam pengembangan ekonomi dunia.

Beberapa contoh yang diungkapkan oleh Pak saladin ketika menjelaskan hubungan antara matematika dan industri diantaranya adalah Laborat Hydro Dynamik, yang membuat simulasi ombak untuk kapal. Karakteristik Ombak itu berbeda, sehingga perlu uji coba dari kapal kapal yang berbeda. Lab Hydro Dynamik memiliki kolam ombak  dan sekali menggerakkan biaya sangat banyak serta menggunakan system trial and error dan kadang sampai 15 kali baru berhasil. Sedangkan dengan menggunakan model matematika, bisa digerakkan dalam hitungan satu atau dua kali.

Pak Saladin saat ini mengajar di ITB dan baginya sangat menarik mengajar dan membimbing mahasiswa dari tahun ke tahun dan dari berbagai daerah. Menurut beliau, karakterikstik mahasiswa dari tahun ke tahun sangat berbeda.  Selain mengajar di ITB, Pak Saladin juga menjadi pengurus Ikatan Alumni (IA) ITB. Beliau bercerita bahwa IA ITB dibagi dalam beberapa organisasi, diantara IA angaktan, IA daerah dan IA Pusat. Melalui IA, para alumni berusaha membantu dan memberikan yang terbaik bagi ITB.

Ketika ditanya masa SMA nya, Pak Saladin mengungkapkan bahwa beliau termasuk orang yang sangat menikmati masa kini. Kecuali kalau beliau bertemu dengan teman-teman SMA, baru beliau ingat kejadian-kejadian masa lalu. Mungkin kenangan terdalam bagi Pak saladin saat bersekolah di Muhi adalah beliau bisa belajar tentang (Alm.) Thojib, ayahnya, justru di sekolah. Diantaranya beliau belajar tentang integritas yang mesti dijunjung tinggi.

Keempat saudara Pak Saladin juga lulusan Muhi semua. Mereka adalah (1) Pak Manaruddin yang sekarang berprofesi sebagai pelaut (2) Pak Zulkarnain, guru SMAN Jatinom, sedang S2 di UGM (3) Hasan Besari, bekerja di Bogor dan (4) Setiyani Wardaningtyas di UNES.

Filed under Celoteh alumni Tags:

Profile Alumni 4: Himmatul Hasanah

Written on October 11th, 2009 by elis z anis4 shouts

Himmah copy

Karena kecintaannya kepada binatang yang dirasakan sejak kecil. menghantarkan dia untuk memilih jurusan Nutrisi Ternak di Fakultas Peternakan UNDIP Semarang tahun 1991, dengan  jalur PMDK. Sambil mengenang masa SMA nya,  Mbak Himmah, begitu panggilan akrabnya, bercerita bahwa rasa sayang kepada binatang sudah tumbuh sejak kecil. Ketika dia mau sekolah dan melihat ada anak ayam yang terjatuh di sungai, Mbak Himmah akan segera menghentikan laju sepedanya dan mengambil anak ayam tersebut dan memastikan anak ayam tersebut aman dan terlindung.

Ditanya soal kenangan di SMA, Mbak Himmah tertawa sembari menjawab “Wah itu sudah lama sekali Nduk.” Lalu dia bercerita bahwa pada waktu bersekolah di SMA Muhi, dia terkenal sebagai siswa yang paling keras meminta agar SMA Muhammadiyah 1 Klaten mewajibkan siswi – siswi nya untuk memakai jilbab. Pada waktu itu memang hanya sedikit sekali siswa yang bersekolah dan memakai jilbab, mungkin tidak sampai 1 % dari jumlah keseluruhan siswa. Dengan segala keberaniannya, Mbak Himmah mengumpulkan tanda tangan ratusan siswa-siswi Muhi yang menjadi simbol dukungan mereka atas ide diwajibkannya siswa Muhi berjilbab.

Setelah lulus dari Muhi tahun 1991, Mbak Himmah melanjutkan S1 di Fakultas Peternakan UNDIP. Pada tahun 1996, Mbak Himmah melanjutkan kuliahnya di Pra Pasca UGM selama 6 bulan dengan beasiswa BPPS, yang kemudian dilanjutkan dengan program S2 di jurusan yang sama dan selesai pada tahun 2000. Tahun 2001 Mbak Hima melanjutkan ke jenjang S3 di Fakultas Peternakana UGM.  Karena kesibukannya mengelola perusahaan (CV Hi-San Production), sampai sekarang Mbak Himmah belum menyelesaikan studi S3 nya.

Sejak SMA, Mbak Himma aktif di berbagai kegiatan organisasi, diantaranya  menjadi ustadzah bagi 70 anak didik TPA. Ini pula yang sebenarnya memberatkan dia untuk pindah ke Semarang setelah lulus dari SMA. Selain itu, Mbak Himma juga aktif di Pimpinan Wilayah Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Jawa Tengah, sembari menuntut ilmu di Universitas Diponegoro Semarang. Seperti diungkapkan di buku Profile Pengusaha Indonesia “ Berjuang di IRM membutuhkan perjuangan moral dan materiil.” Dengan uang saku yang sangat terbatas, Mbak Hima akhirnya mulai berjualan baju ke teman teman kos nya sampai kemudian berkembang ke pedagang pedagang.

Agaknya naluri bisnis Mbak Himmah cukup kuat, sehingga dia memberanikan diri untuk mengembangkan perusahaan Garment di Klaten dan di Jakarta dengan pekerja sekitar 500 orang. Pada awalnya perusahaan Mbak Himmah, adalah perusahan Garment Export dan sudah bertahun-tahun melakukan export ke berbagai Negara, namun dengan kondisi krisis keuangan seperti sekarang ini, Mbak Himmah akan merubah perusahaanya menjadi perusahaan dengan market lokal. Diakuinya, dengan latar belakang aktivis dan jiwa sosialnya tidak mudah bagi Mbak Himmah untuk terhanyut dalam dunia kapitalisme bisnis nya. Berbagai masalah menerpa bisnisnya sehingga Mbak Himmah membuat berbagai rencana untuk keluar dari krisis yang menerpa perusahaannya. Mbak Himma yakin Allah sebagai penolong dalam setiap kesulitan.

Filed under Celoteh alumni Tags:

Profile Alumni 3: RUSTIKA HERLAMBANG

Written on October 11th, 2009 by elis z anis5 shouts

rustika3 copy

RUSTIKA NUR ISTIQOMAH – kini lebih akrab dengan nama Rustika Herlambang – tak pernah sekalipun berpikir untuk menjadi wartawan seperti sekarang ini. Ketika masih menjadi murid di SMA Muhi (1987-1990), cita-citanya tegas: ingin menjadi seorang pramugari. Dia masih ingat benar ketika dipanggil Pak Thoyib, guru BP yang sangat populer , dan diberikan “pengarahan” mengenai betapa luasnya cita-cita yang bisa diraih. Namun siapa sangka, dia justru tertarik menjadi wartawan –seperti juga Pak Thoyib yang sering menulis untuk majalah Djoyoboyo- sejak selulus kuliah dari Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro, tahun 1995 hingga kini.

Saat ini, Mbak Tika, begitu dia disapa, sebagai Redaktur Eksekutif di Majalah Dewi, sebuah majalah gaya hidup terdepan di Indonesia. Sebelumnya, ia sempat bergabung sebagai wartawan fashion selama lebih dari 5 tahun di harian Media Indonesia, dan pernah meraih penghargaan pertama Fashion Journalist Award 2002 dari Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Meski demikian, dia mengaku lebih menikmati pengalamannya saat berhasil bertemu dengan petinggi Gerakan Aceh Merdeka di Swedia (satu-satunya wartawan Indonesia yang ditemui secara khusus di markas GAM Swedia), kisah orang-orang terbuang akibat peristiwa G30S PKI di Eropa, atau liputan investigasi yang memungkinkan dia untuk menyamar.

Rustika dan Putrinya,  Lilu Herlambang

Rustika dan Putrinya, Lilu Herlambang

Rustika dan Lilu Herlambang

Rustika dan Lilu Herlambang

Bagi Mbak Tika, menjadi wartawan adalah hal yang sangat menyenangkan. Kehidupannya sarat dengan petualangan. Seperti tertuang dalam blog pribadinya, (www.rustikaherlambang.wordpress.com) dia mengungkapkan, “Bukan hanya tubuh yang mengelana ke ujung dunia, tapi juga pikiran-pikiran kita yang terus menerobos segala batas yang pernah ada. Aku sangat menikmatinya”. Apalagi kini dia menjadi redaktur profil yang memungkinkan dia bisa menyelami kehidupan nara sumbernya secara lebih personal – yang seperti diakuinya penuh dengan rahasia dan misteri. Mbak Tika bisa dikontak melalui email: rustika.herlambang@feminagroup.com

Filed under Celoteh alumni Tags:

Profile Alumni 2: TEGUH RAHAYU

Written on October 11th, 2009 by elis z anisno shouts

Teguh Rahayu2 copy 2

TEGUH RAHAYU, alumni Muhi ’90 ini lahir di Klaten pada tanggal 27 Sept 1970 dan menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Akuntansi di STIE INABA pada tahun 1994. Sejak tahun 1993 mas Teguh bekerja di Departement Pajak Bandung. M Dua tahun sebelumnya (1991) dia pernah kuliah di UNKRIS Jakarta di Jurusan Ekonomi Manajement sambil jualan es di siang hari untuk membiayai hidupnya. Lalu di tahun yang sama dia pindah ke Bandung dan mengambil kuliah di STIE Bandung, sementara untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya, mas Teguh bekerja di wartel setelah kuliah. Mas Teguh juga pernah kuliah di Jurusan Management, Univ Bandung. Sayangnya hanya bertahan 2 tahun karena sering dinas keluar kota. Akhirnya mas Teguh menekuni pekerjaannya di Departement Perpajakan, juga karena terikat dengan Ikatan Dinas.

Disamping kerja di Departement Perpajakan, mas Teguh juga menekuni produksi organik. Mas Teguh mengungkapkan “Saya lihat peluang untuk bisnis di pertanian besar sekali dan ingin ikut melestarikan lingkungan akibat revolusi hijau dan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Hasil pertanian mestinya bebas dari residu (kandungan kimia yang tersisa di dalam makanan) dan aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak kita”. Lebih lanjut mas Teguh mengungkapkan bahwa dalam satu musim tanam petani nyemprot pestisida hampir 15 kali, biasa dibayangkan berapa banyak zat kimia yg ada didalam beras yang kita konsumsi sehari-hari.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa untuk hidup sehat kelihatannya lebih mahal. Misalnya saja harga beras organik cenderung lebih mahal dibandingkan beras biasa. Menanggapi hal ini mas Teguh menanggapi “Ya memang sehat itu mahal harganya, selama ini masyarakat kita terkecoh dgn yg mulus-mulus atau putih-putih, padahal kalau mau beli sayur bagus mestinya pilih yang banyak bolongnya. Bekas ulat itu lebih aman karena ulat saja tdk mati. Umur manusia sekarang ini tidak seperti dulu karena pola hidup kita yg tdk terkontrol lagi”.

Saat ini mas Teguh telah dikaruniai 3 anak: Hafiyyan Adji Widagdyo (8 tahun), Nabilla Ambarwati Rahayu (5 tahun) dan Rajendra Dimas Widagdyo (3 tahun), dari pernikahannya dengan Dwi Bekti Suprianti.

Mas Teguh Rahayu dan Keluarga

Mas Teguh Rahayu dan Keluarga

Saat ditanya soal pengalaman ketika sekolah di Muhi, Mas teguh dulu aktif di PMR dan dia menceritakan betapa bangganya dia saat lomba PMR dan menadapatkan juara umum. Waktu itu mas Teguh kelas 2 SMA. Pernah saat ikut lomba di Batur Ceper, tenda terkena angin kencang, dan roboh semua. Mas Teguh juga mengungkapkan bahwa di kelas, dia bukan termasuk anak yang pintar, karenanya gak banyak disukai oleh teman-teman ceweknya di SMA dulu.

Mas Teguh bisa dikontak melalui Hp di  081 220 402 86

Filed under Celoteh alumni Tags:

Profile Alumni 1: Setyawan Hesti Wahyudi

Written on October 5th, 2009 by elis z anis4 shouts

Hesti copy 2

SETYAWAN HESTI WAHJUDI, yang biasa dipanggil Hesti atau Tebok, punya cita-cita menjadi petani.  Pria kelahiran 1 Oktober 1969 ini awalnya tidak ingin melanjutan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi. Tapi akhirnya karena diterima di ITB Jurusan Geologi, maka dia harus memenuhi janji kepada orangtua nya untuk menyelesaikan kuliah sampai akhir.  Hesti mengungkapkan “Ini keajaiban dunia, saya diterima di ITB. Ternyata doa orangtua lebih kuat. Hesti lulus tahun 95 dan terkenal bandel pada waktu sekolah di SMA Muhi dulu. Dia juga suka “ngeyel “ sama gurunya, termasuk Pak Muhni. Kadang-kadang pada waktu pelajaran, dia suka tertidur. Tapi karena dia selalu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan, dia terbebas dari kemarahan guru-gurunya.

Setelah menyelesaikan studi di ITB tahun 1994, Hesti bekerja sebagai konsultan tambang di Bandung  selama 2 tahun. Kemudian dia pindah ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan dan bersama teman-teman nya mendirikan perusahan trading batu bara. Pada tahun 2007, Hesti mendirikan  perusahan konsultan dan agensi perdagangan batubara yang diberi nama “Karya Citra Barathama”. Perusahaannya juga menjadi perwakilan buyer pembeli dari luar negeri. Bagi Hesti, keberhasilan dan kegagalan sama-sama merupakan suatu ujian yang dihadapi, dan itu rupanya yang menjadi salah satu kunci sukses Hesti.

100_1856 copy

Mas Hesti memberikan breafing pada staf nya

Mas Hesti memberikan breafing pada staf nya

DSC00089 copy

DSC00105 copy

Pada tanggal 9 Februari 1993 Hesti mempersunting Harini Suprapti sebagai istri.  Harini yang biasa disapa “Rin” juga alumni SMA Muhi Klaten. Rupanya banyak cinta bersemi di SMA Muhi Klaten. Pada waktu Hesti kuliah di ITB, Harini kuliah di Akper RS Islam Jakarta.  Hesti dikaruniai 3 anak: Wahyuningtyas (15 tahun), Iqbal (12 tahun) dan  khomsa (5 tahun).

Hesti dan istri, Harini, sama sama Alumni Muhi Klaten

Hesti dan istri, Harini, sama sama Alumni Muhi Klaten

Mas Hesti dan Keluarga

Mas Hesti dan Keluarga

Ditanya soal pengalaman yang berkesan selama di SMA, Hesti menjawab

“ Pernah di kejar kejar Pak Thoyib dan disuruh potong rambut”. Untungnya Hesti selalu bisa mempertahankan kan prestasinya sebagai juara kelas sehingga terhindar dari kemarahan Pak Toyib. Dibawah bimbingan Pak Endar, Hesti juga pernah juara II LKIR tingkat nasional tahun 86. Dan  juara 1 LKIR di Klaten pada tahun 85, tentang Bleduk Kuwu di Purwodadi.

Filed under Celoteh alumni Tags:

Muhiklaten.info sudah aktif lagi

Written on October 3rd, 2009 by arif h10 shouts

Setelah Kurang lebih seminggu Blog muhiklaten.info tidak bisa di akses, sekarang sudah bisa di akses lagi.
Hal ini di karenakan hosting yang kami sewa di serang hacker sehingga menyebabkan semua data, semua postingan hilang. atas kejadian itu perusahaan penyewa server/hosting telah tutup, padahal kelas dunia.
saya juga minta maaf karena semua tulisan yang telah ada hilang semua. Saya berharap rekan-rekan semua masih bersedia menyumbangkan tulisan demi kelangsungan blog ini.
Saya pindahkan hostingnya, numpang di hostingnya mbak elis.
Mudah-mudahan blog ini masih terus bisa eksis untuk memberikan informasi tentang berbagai hal dari alumni.
Terima kasih mbak elis yang mau di tumpangin .. heheheh..
bagi rekan-rekan yang masih berkenan memberikan tulisan silahkan memberi komentar nanti akan saya buatkan account agar bisa mengakses blog ini.

Filed under Celoteh alumni Tags: