Money Talks di Rutan – Catatan Keprihatinan
Dalam hidupku, aku tidak pernah mengenal lika liku kehidupan penjara (rutan), sampai ketika itu aku rutin ke salah satu Rutan di Jawa Tengah karena salah satu family ku ditahan di Rutan itu, bukan karena kriminalitas, tapi karena kecelakaan. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, ketika tiba tiba dengan sangat cepat ada pengendara sepeda motor yang memotong jalan dan tanpa menggunakan helm. Tabrakan pun tidak terhindarkan, adik iparku selamat, meski mobil yang dikendarai rusak total. Sementara pengendara sepeda motor tersebut segera dilarikan ke rumah sakit dan beberapa jam kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Sesuai dengan hukum yang berlaku, saudaraku itu divonis penjara 6 bulan dan harus membayar sekian juta rupiah ke Pengadilan. Alhamduliah, dia sekarang sudah keluar dari Rutan itu.
Ketika masih di rutan, aku melihat saudaraku dan teman-temannya tampak sangat tidak terurus. Tubuh mereka terlihat jauh lebih kurus, dengan mata cekung karena kurang istirahat. Bukan karena mereka tidak diberikan jam istirahat, tapi karena tempat yang mereka huni jauh dari kata “manusiawi”. Lebih dari 20 orang berjejal dalam kamar berukuran 3 x 4 meter. Untuk tidur, mereka harus bergantian, dan harus dalam posisi miring. Beberapa penghuni rutan senior disegani dan sering memaksa pendatang baru, tidak terkecuali saudaraku itu.
Setiap orang yang berkunjung ke rutan itu diberikan kartu dan dibatasi waktu kunjungnya, tidak boleh lebih dari 30 menit. Kalau ingin memperpanjang, harus menyelipkan sebungkus rokok dan beberapa puluh ribu rupiah. Keluarga ingin waktu lebih lama dan para sipir itu tentu saja tidak menolak rokok dan uang perpanjangan waktu. Maka tradisi seperti ini terus berkembang. Rasanya penjara atau rutan selalu terkait dengan uang. Aku jadi ingat buku “Jurnalisme Sastrawi” yang salah satunya menceritakan kehidupan dari rutan ke rutan beserta besarnya uang yang harus di setor kepada setiap pos.
Hari ini, aku seperti orang yang shock mendengar berita di TV yang terus di ulang ulang tentang “Istana di Dalam penjara”. Kisah indah kasus terpidana korupsi Artalyta Suryani (Ayin), yang bisa menyulap penjara nya menjadi sebuah istana dengan berbagai fasilitas mewahnya, termasuk dokter kecantikan yang memberikan perawatan kepada Ayin. Mungkin benar apa yang di katakan dosenku dulu, bahwa “Money Talks”. Bahwa uang bisa merubah banyak hal. Bahwa banyak orang yang akan menjadi silau dengan uang yang melimpah.
Tidak pernah terfikir kehidupan di penjara akan menjadi istana seperti yang di alamai Ayin. Aku selalu mengira kehidupan penjara, sepenting apapun orang tersebut, tidak akan punya keluasaan yang melampau batas. Pada saat yang sama saudaraku ditahan, Bupati setempat juga ditahan karena dugaan korupsi. Istimewanya dia tinggal satu kamar sendiri. Hanya itu. Aku juga dengar di rutan itu, kalau mau kamar lebih luas dengan lebih sedikit penghuni, harus membayar sekian juta. Saudaraku ditawari juga, tapi dia sepertinya tidak mau buang-buang uang dan rela berdesak-desakan sampai vonis bebas nya.
Peristiwa Ayin ini tentunya membuka mata banyak pihak. Membawa sebuah keprihatinan tentang dunia kelam di Rutan dan semua pihak terkait. Entah sudah berapa banyak Ayin-Ayin yang lain yang tidak terungkap. Kemewahan yang dia nikmati di penjara tentu membawa sakit yang mendalam. Betapa penghuni rutan di bedakan nasibnya, pelayannya, hanya berdasarkan uang. Money Talks. Mudah-mudahan Pemerintah bisa menindak tegas dan tidak sekalipun memberikan pembenaran sikap Ayin dan pihak yang telah memfasilitasinya. Smoga.