SALADIN, Ph. D

Putra kedua Bapak Thojib ini memilih menjadi mathematikawan setelah menyelesaikan S1 dan S2 nya di ITB jurusan Matematika Institut Tehnologi Bandung (ITB) dan S3 di Universiteit Twente, Belanda, di jurusan yang sama. Bagi Pak Saladin, salah satu tantangan sebagai mathematikawan yang juga menjadi perhatiannya adalah bagaimana mendekatkan GAP antara mathematikawan dengan pengguna matematika. Banyak industri yang beranggapan bahwa matematika itu murni hanya hitungan, padahal matematika juga sangat dibutuhkan dalam dunia industri. Sayangnya banyak idnustri Indonesia yang terlalu bergantung pada ahli dari luar negeri. Hal ini berimbas matematikawan Indonesia kurang tertantang dan kurang berkembang. Sebenarnya industri akan sangat diuntungkan oleh matematikawan dan sebaliknya matematikawan bisa lebih mengembangkan ilmu. Pentingnya ilmu matematika ini juga dirasakan dalam pengembangan ekonomi dunia.
Beberapa contoh yang diungkapkan oleh Pak saladin ketika menjelaskan hubungan antara matematika dan industri diantaranya adalah Laborat Hydro Dynamik, yang membuat simulasi ombak untuk kapal. Karakteristik Ombak itu berbeda, sehingga perlu uji coba dari kapal kapal yang berbeda. Lab Hydro Dynamik memiliki kolam ombak dan sekali menggerakkan biaya sangat banyak serta menggunakan system trial and error dan kadang sampai 15 kali baru berhasil. Sedangkan dengan menggunakan model matematika, bisa digerakkan dalam hitungan satu atau dua kali.
Pak Saladin saat ini mengajar di ITB dan baginya sangat menarik mengajar dan membimbing mahasiswa dari tahun ke tahun dan dari berbagai daerah. Menurut beliau, karakterikstik mahasiswa dari tahun ke tahun sangat berbeda. Selain mengajar di ITB, Pak Saladin juga menjadi pengurus Ikatan Alumni (IA) ITB. Beliau bercerita bahwa IA ITB dibagi dalam beberapa organisasi, diantara IA angaktan, IA daerah dan IA Pusat. Melalui IA, para alumni berusaha membantu dan memberikan yang terbaik bagi ITB.
Ketika ditanya masa SMA nya, Pak Saladin mengungkapkan bahwa beliau termasuk orang yang sangat menikmati masa kini. Kecuali kalau beliau bertemu dengan teman-teman SMA, baru beliau ingat kejadian-kejadian masa lalu. Mungkin kenangan terdalam bagi Pak saladin saat bersekolah di Muhi adalah beliau bisa belajar tentang (Alm.) Thojib, ayahnya, justru di sekolah. Diantaranya beliau belajar tentang integritas yang mesti dijunjung tinggi.
Keempat saudara Pak Saladin juga lulusan Muhi semua. Mereka adalah (1) Pak Manaruddin yang sekarang berprofesi sebagai pelaut (2) Pak Zulkarnain, guru SMAN Jatinom, sedang S2 di UGM (3) Hasan Besari, bekerja di Bogor dan (4) Setiyani Wardaningtyas di UNES.