Sebagai pengguna sepeda motor, hampir dipastikan seminggu sekali aku mengisi BBM. Karena tidak ada aktivitas, biasanya aku melihat pada metering yang mengukur berapa liter BBM yang kita isi dan berapa rupiah uang yang harus kita keluarkan. Selalu, pengendara sepeda motor harus membayar lebih dari apa yang tertera di metering BBM, entah disadari atau tidak. Meskipun itu jumlahnya kecil. Misalnya tertera disitu IDR. 17.610, dan petugas nya akan bilang 18.000 Mbak. Artinya ada IDR 390 yang seharusnya di kembalikan, dan itu harusnya mungkin, karena ada pecahan IDR. 100, paling tidak dikembalikan IDR. 300. Jika saja petugasnya bilang “Mbak, ini yang 390 buat saya ya”, pasti saya bilang iya. Tapi dia tidak pernah bilang seperti itu. Hal ini terjadi hampir setiap kali saya isi BBM. Pernah saya iseng bilang ke petugasnya : “Lho mas, kok kembaliannya kurang 300 rupiah, itu ada logo Pasti PAS disitu, berarti Cuma slogan donk”. Orangnya tampak terkejut dan tidak menyangka saya akan bilang seperti itu.

Bagi pengendara sepeda motor, mungkin uang receh 300 rupiah sampai 500, mungkin tidak akan begitu berarti karena nilai uang juga semakin turun. Akan tetapi sesungguhnya nilai kejujuran itu bisa berawal dari hal-hal yang kecil. Bisa jadi gaji pegawai BBM itu tidak terlalu tinggi, tapi itu tidak berarti dia bisa memperlakukan pelanggan seperti itu. Saya justru terkesan ketika belanja di Superindo dan ada sisa 80 Rupiah, lalu Cashier bertanya apakah 80 rupiah bisa disumbangkan untuk UNICEF? Jadi daripada permen, mereka bekerja sama dengan UNICEF untuk menyalurkan sumbangan dari uang kembalian consumer yang berbelanja. Saya kira itu bagus.

Pengalaman lain, ketika hari Minggu berbelanja di pasar tradisional dekat rumah, para mbok-mbok yang menjual dagangan saling bernego bahkan untuk uang 100 rupiah. Saya tersadar, bahwa uang receh bisa sangat berarti bagi wong cilik, mbok-mbok yang menjual hasil tanaman kebunnya, mbok-mbok yang tidak pernah masuk ke supermarket. Receh demi receh mereka kumpulkan untuk sesuap nasi. Alangkah bedanya dengan receh demi receh yang diambil secara “tidak halal” oleh pegawai BBM. Tentunya tidak semua pegawai BBM punya prilaku seperti itu, apalagi BBM yang menerapkan aturan ketat. Menurut saya, semua lebih kepada kepribadian pegawai tersebut. Kalaupun disitu memungkinkan untuk berlaku curang, kalau dalam dirinya sudah ada kejujuran, maka seharusnya itu tidak akan terjadi. Bayangkan saja berapa banyak pengendara sepeda motor yang diambil receh nya dikalikan berapa hari, berapa bulan? Mudah-mudahan kita terhindar dari prilaku yang seperti itu. 100 rupiah, 200 rupiah bisa sangat berarti bagi orang lain. Jalan halal harus selalu ditempuh dan kejujuran adalah kunci utama dalam setiap aspek kehidupan kita.

Yogya, 12 Jan 2010

Elis, Alumni Muhi  ‘94